Kenthir

Bahasa Inggris membedakan secara jelas penggunaan crazy dan insane meskipun dua kata tersebut adalah sinonim. Tapi bahasa Indonesia dan apalagi bahasa Jawa, banyak kata sinonim yang penggunaannya suka tidak dibedakan. Bahasa Jawa misalnya menggunakan kata �edan� untuk menekankan kegilaan atau kenekatan. Kenthir adalah kosa kata bahasa Jawa, dalam banyak penggunaannya lebih banyak untuk menekankan kegilaan daripada kengawuran. Tapi pada tingkat tertentu kengawuran bisa dianggap bagian dari kegilaan. Misal perilaku ngawur berlalu lintas atau perilaku antisosial.

Kalau edan dan gendheng (yang sama-sama berarti gila) masih bisa diasosiasikan dengan kenekatan atau keberanian, tapi kenthir tidak. Kenthir adalah perilaku antisosial, atau setidaknya menabrak pakem atau aturan umum yang berlaku. Tapi benarkah kita ini sepenuhnya sehat, �sane� atau waras? Apakah ada tanda-tanda ketidakwarasan masyarakat? Ketika suatu hari terbaca berita ibu yang menyiksa anaknya sendiri, rasanya miris sekali. Tentu itu adalah tanda ke-kenthir-an seorang ibu. Dan tanpa membaca berita detilnya rasanya berita-berita seperti itu, sudah dapat diduga latar belakang pelakunya. Itu terjadi dari suasana keputusasaan dan himpitan ekonomi yang terlalu berat. Terlalu banyak kekerasan di sekitar kita, mulai pada ibu ke anak, bapak ke anak, suami ke istri, mahasiswa ke sesama mahasiswa, guru ke murid, satpol PP atau polisi ke orang umum dan seterusnya. Pasti ada yang salah dalam masyarakat kita.

Lucunya pada saat yang sama, para pejabat dan pemimpin sibuk saling tuding soal harta korupsi yang hendak disembunyikan, soal kekuasaan yang tak terbagi rata atau soal fasilitas yang mesti didapat. Kekerasan, kedegilan dan kekonyolan mudah kita temukan dimana-mana. Dari warung-warung pinggir jalan sampai ruang sidang parlemen. Begitu bertubi-tubi kedegilan menyerbu seluruh indra kita: tv, radio, koran, internet dst sampai terkadang kemuakan itu bisa membuat kita lupa, selalu masih ada kebaikan-kebaikan yang bisa kita temukan juga dimana-mana.

Barangkali kemiskinan memang masalah. Tapi soal harga diri dan kerakusan adalah masalah lain yang lebih besar. Membaca berita bagaimana hutan dijarah, rel kereta api dijarah, sampai halte busway dijarah adalah ke-kenthir-an yang lain. Jakarta adalah miniatur Indonesia, ketika di miniatur itu kita temukan ke-kenthir-an yang luar biasa, tentu Indonesia sendiri tak akan jauh dari itu.

Ketika TV, ponsel dan segala sesuatu yang menawarkan konsumerisme masuk sampai kamar tidur kita, mudah sekali kita saksikan, seorang yang dapat rejeki nomplok 10 juta rupiah (pada sebuah acara reality show), dan tinggal di sebuah rumah ilegal semi permanen di pinggir rel kereta, memborong lemari es, TV, rice cooker dan ponsel. Tentu kita bisa anggap itu adalah kejadian kenthir. Ketika seorang polisi, dari posisi dihujat dan dicaci-maki semua orang, menjadi pengungkap kasus-kasus kriminal yang melibatkan rekan-rekan kerjanya, bisa kita anggap juga ini adalah fenomena kenthir. Polisi ini pasti dianggap kenthir oleh rekan-rekannya. Apakah dia pahlawan atau pecundang, tak penting lagi bagi sebagian besar masyarakat, ternyata. Hal yang sudah dikategorikan sebagai ke-kenthir-an tak perlu dinilai lebih jauh lagi. Penilai, hanya akan menjadi seorang kenthir yang lain, nantinya :-)

Bertahan hidup di Jakarta dengan cara-cara yang waras dan menggunakan akal sehat, sebenarnya tak mustahil. Memang bukan pekerjaan enteng, tapi juga tak mengerikan sulitnya. Betapa banyak orang membutuhkan pembantu rumah tangga, tapi betapa banyak calon pembantu rumah tangga yang susah dipercaya. Betapa banyak proyek dan misi bagus, tapi betapa sedikit orang yang tak ngiler atau iri dengan apa yang seharusnya menjadi hak orang lain atas pekerjaan dan penghasilan yang layak. Tak sulit untuk hidup sederhana, tapi ternyata lebih banyak yang kesulitan menahan gengsi atau cibiran orang soal gaya hidup pas-pasan dan sederhana.

Lebih banyak orang berakal sehat dan hidup dengan cara yang wajar, yang dicap kenthir karena tak ikut arus besar konsumerisme. Jika demikian halnya, saya pilih menjadi kenthir saja.

Sumber : http://meta.wacana.net/categories/1-Glenyengan
Diposting oleh — Minggu, 29 Mei 2011

Belum ada komentar untuk "Kenthir"

Tambahkan komentar anda :