Kitty Genovese � Balada Hidup di Kota Besar

Kasus Kitty Genovese merupakan salah satu kejadian paling memprihatinkan dalam sejarah kota New York. Kitty adalah seorang peserta kontes kecantikan yang dikejar-kejar oleh pembunuh berantai acak dan dianiaya sampai tiga kali selama lebih dari setengah jam, sebelum akhirnya dibunuh oleh pengejarnya.

Yang mencengangkan adalah fakta bahwa 38 tetangganya menyaksikan kejadian itu dari jendela tempat tinggalnya masing-masing, dan tidak ada satu tetangga pun yang yang mengangkat telponnya untuk menghubungi polisi selama penganiayaan berlangsung. Untuk menelpon saja tidak, apalagi untuk berniat keluar ke jalan dan menolong gadis itu. Tragis! Ini kejadian yang sangat-sangat memalukan dan menggambarkan betapa dingin dan tidak manusiawinya gaya hidup di perkotaan.

Abe Rosenthal, yang belakangan menjadi editor New York Times menulis sebuah buku tentang kasus Kitty Genovese ini.

"Tidak seorang pun dapat mengatakan mengapa 38 saksi tidak mengangkat telpon pada waktu Kitty Genovese sedang dianiaya. Namun, kita dapat mengandaikan bahwa sikap apatis mereka mungkin salah satu yang khas dalam gaya hidup perkotaan. Secara psikologi, ini adalah salah satu cara bertahan hidup. Jika seseorang merasa dikelilingi dan ditekan oleh jutaan orang lain, agar tekanan itu tidak sampai merugikan secara langsung, cara satu-satunya adalah mengabaikan tekanan itu sesering mungkin. Ketidakpedulian kepada tetangga dan masalah-masalah mereka merupakan cerminan gaya hidup di New York dan kota-kota besar lainnya."

Psikolog Bibb Latane dan John Darley mengadakan serangkaian studi untuk memahami masalah yang mereka sebut �kecenderungan untuk menjadi penonton� atau �bystander problem�. Mereka menyandiwarakan beberapa keadaan darurat yang disesuaikan dengan berbagai situasi untuk mengetahui siapa yang akan datang menolong dan membantu. Yang mengejutkan adalah hasil temuan mereka bahwa kecenderungan orang untuk menolong orang lain ditentukan oleh berapa banyak saksi dalam suatu kejadian.

Terus Bagaimana?

Dalam sebuah eksperimen, misalnya, Bibb Latane dan John Darley mengatur agar salah seorang mahasiswa mereka berpura-pura mengalami serangan epilepsi. Apabila tetangga mahasiswa itu hanya satu orang dan orang itu tidak tahu bahwa ada orang lain di sekitarnya, peluang orang itu memberikan pertolongan kepada sang �korban epilepsi� adalah sebesar 85 %. Namun, bila di sekitar �korban epilepsi� itu ada 4 orang lain yang menjadi saksi mata terjadinya serangan epilepsi, peluang si tetangga itu untuk mendatangi si mahasiswa hanyalah 31 %!

Dalam eksperimen lainnya, orang yang melihat ada asap mengepul dari bawah pintu akan mempunyai peluang untuk melaporkan kejadian tersebut sebanyak 75 % ketika ia sendirian dan akan tinggal berpeluang 38 % ketika dia melihat asap bersama sejumlah saksi mata lain.

Apa yang terjadi?

Ketika saksi mata tidak sendirian, tanggung jawab untuk mengambil tindakan MENYEBAR. Masing-masing mengandaikan ada seseorang lain di antara mereka yang akan menolong atau menelpon. Masing-masing juga bisa mengandaikan bahwa karena tidak ada yang bertindak, suara mengerang atau kepulan asap di bawah pintu BUKANLAH MASALAH YANG SERIUS.

Dalam kasus Kitty, ironisnya, kalau saja gadis itu diserang di jalanan yang tidak terlalu ramai dan seseorang yang melihatnya tahu bahwa tidak ada orang lain lagi di sekitar situ, mungkin saja sang gadis akan mendapat pertolongan dan selamat dari rencana pembunuhan.

Kesimpulannya?

Terkadang, hal yang penting agar orang lain bersedia mengubah perilaku mereka dan memperdulikan keadaan orang-orang di sekitar mereka yang sedang mengalami musibah adalah INFORMASI YANG SESEDIKIT MUNGKIN TENTANG SITUASI YANG SESUNGGUHNYA. Biarkan nurani yang akhirnya berbicara.

Orang yang membuka hatinya akan memiliki kepedulian terhadap orang dan lingkungan sekitarnya yang lebih besar daripada kelihatannya dan mempunyai peluang untuk mencegah agar tidak ada Kitty-Kitty lain yang menjadi korban..

Sumber : http://gemabuluk.wordpress.com/2010/05/25/bystander-effect-balada-hidup-di-kota-besar/
Diposting oleh — Rabu, 22 Juni 2011

Belum ada komentar untuk "Kitty Genovese � Balada Hidup di Kota Besar"

Tambahkan komentar anda :