Anti Moralitas Nietzsche Menampar Pemikiran

Nietzsche
Who is that Nietzsche? Dia adalah seorang filsuf dari Jerman yang memiliki nama kepanjangan Friedrich Wilhelm Nietzsche. Sebelum melanjutkan membaca ada baiknya mengetahui cara spelling atau menyebutkan nama panjang Nietzsche. Mari sebutkan Friedrich dengan fridrish, lalu Wilhelm dengan vhilhellm, Nietzsche dengan nichah. Memang sulit tapi bisa dipelajari di inogolo.

Sedikit Tentang Niezsche

Menurut Wikipedia, selain seorang filsuf Nietzsche juga seorang filolog. Dia menulis banyak teks yang berisikan kritik atas agama, budaya kontemporer, moralitas, filsafat, dan ilmu. Dia menulisnya dengan menggunakan gaya bahasa Jerman yang khas dan menunjukkan kesukaannya terhadap bahasa metafor, ironi, dan aforisme. Salah satu bukunya yang saya miliki dan belum pernah saya baca sampai habis adalah Lahirnya Tragedi yang diterjemahkan dari buku The Birth of Tragedy dikarenakan terjemahannya kurang dapat saya pahami dan ceritanya yang begitu bertele-tele dan ribet, contohnya:

Oleh karena itu, �aku�-nya si penyair liris berbunyi dari relung ada itu sendiri: �subjektivitas�-nya dalam arti yang digunakan oleh para estetikus modern adalah sebuah kekeliruan. Ketika Arsilokus, penyair liris pertama di kalangan orang Yunani, memproklamasikan cintanya yang bergelora dan sekaligus penghinaannya kepada putri-putri Lycambes, bukan nafsunya yang menari-nari di depan kita dalam hiruk-pikuknya yang gila-gilaan: kita melihat Dionysus dan para Maenad, kita melihat Arsilokus, peserta yang bersukaria dan mabuk, lelap dalam tidurnya- seperti dilukiskan Euripides di dalam Bacchae, tidur di padang rumput pegunungan yang tinggi di siang bolong dan kini Apollo menyambanginya dan menyentuhnya dengan pohon salam. (Nietzsche, Lahirnya Tragedi hal. 47, penerbit Bentang)
Itulah sedikit tentang pemikiran Nietzsche tentang musik.

Moralitas Menurut Nietzche

Nietzsche
Dari kutipan yang saya berikan di atas terlihat bahwa Nietszche memiliki gayanya sendiri dalam menyampaikan uneg-uneg atau filsafatnya. Tetapi dia sendiri tidak menyebut dirinya sebagai seorang filsuf dan sejauh yang saya baca dia itu tidak sekolah filsafat melainkan filologi di Universitas Bonn dan Leipzig sehingga dia bisa menghasilkan bahasa metafor, ironi mau pun aforisme dalam karyanya. Nietzsche suka menulis hal yang kontroversial, dia juga nampaknya suka sekali dengan pembantahan argumen atau pendapat yang telah lama dipercayai, hal ini bisa terlihat dalam argumennya.

Apollo yang dipercaya sebagai simbol keceriaan Yunani bagi Nietzsche adalah kedok jiwa Yunani yang sebenarnya kebalikan dari sifat-sifat Apollo itu, lalu dewa apa yang mengungkapkan jiwa Yunani yang sebenarnya? Dia adalah Dionysus yang memiliki rasionalitas, keindahan dan keterangan pada topeng dionisiknya padahal di dalamnya itu vital, penuh nafsu, dan gelap. Jadi yang diinginkan Nietzsche di sini adalah mengubah pemikiran tentang nilai-nilai yang biasa diketahui menjadi sesuatu yang berbeda sama sekali. Misalnya nilai keindahan atau keanggunan, kita bisa melihat itu dengan kasat mata bahwa itu keindahan tetapi ada sesuatu yang kasat mata dibalik keindahan seperti ada kekejaman, kekuatan, kearoganismean dan lain-lain.

Nietzsche memakai pemikiran jenis ini untuk mengatakan kematian Allah. Menurutnya Allah hanyalah buatan manusia saja yang tidak bisa menuruti daya hidup manusia sesungguhnya. Allah pun di sini dianggap sebagai musuh hidup karena hanya membuat manusia terbelenggu sehingga tidak dapat mengembangkan dirinya, dengan kata lain adanya pikiran tentang Allah membuat manusia tidak bebas, tidak bebas di dunia ini. Dengan mengatakan bahwa Allah adalah musuh terpisah dari pikiran maka untuk melawan itu terciptalah manusia yang memiliki otoritas terhadap dirinya sendiri yaitu √úbermensch yang artinya manusia super. Otoritas ini membuat manusia super untuk bertindak kuat, berani, bebas, tidak kenal ampun, dinamis, berbudi luhur, memegang harga diri.

Lihat saja pemikiran kontroversial ini jelas bertentangan dengan moralitas Anda kan?

Kritik Terhadap Agama Kristen

Warning! Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung agama tertentu. Di sini saya akan memaparkan saja pemikiran moralitas Nietzsche. Nietzsche itu benci sekali dengan agama Kristen, padahal ayahnya seorang pendeta Lutheran dan keluarganya pun memiliki keimanan yang baik terhadap agama Kristen. Nietzsche menganggap bahwa agama Kristen menjunjung tinggi sikap cinta kasih, bersedia untuk menerima, tidak membalas dendam, untuk memaafkan, untuk mencintai musuh, bersedia mengorbankan diri, cinta damai, baik hati, lemah lembut dan lain-lain. Menurutnya sikap seperti itu adalah sikap yang menghambat pertumbuhan otoritas manusia super yang ganas, sadis, keras, mementingkan kekuasaan, angkuh, dan kejam.

Nietzsche
Moralitas Kristiani oleh Nietzsche dianggap MORALITAS khas BUDAK (Magnis-Suseno, 1997:199). Mengapa Nietzsche memiliki anggapan sampai sejauh ini? Kita lihat moralitas Kristiani di atas, baik hati, lemah lembut, dan memaafkan, menurutnya itu adalah sikap orang cengeng, lemah, tidak bisa menentukan otoritas diri, tidak tegas, tidak mampu untuk menentukan pilihan diri. Sebaliknya sikap yang diidolakan oleh Nietzsche, sikap yang bisa menentukan jalan hidup, sikap agung, tinggi, berani dan sebagainya yang membuat orang itu kuat sehingga menjadi tuan bagi budak tadi.

Logika Nietzsche jika disederhanakan menjadi �yang lemah itu hanya akan ditindas oleh yang kuat� jadi tidak ada alasan untuk menjadi budak dan lemah. Jika diibaratkan dengan binatang, tidak ada seekor singa dibunuh oleh kijang! Singalah yang membunuh kijang. Tetapi dalam hal ini kita sama-sama manusia, tidak ada perbedaan signifikan secara fisik antar manusia yang membuat kita selalu menjadi orang yang ditindas. Bukan masalah besar kecil badan, tetapi masalah apakah kita bisa �membunuh� lawan kita atau tidak, jika kasihan berarti mental budak. Tampaknya di sini Nietzsche memiliki sentimen yang besar terhadap moralitas Kristiani.

Saya memiliki opini bahwa Nietzsche itu tidak membenci agama Kristen, tetapi membenci moralitasnya yang membuat orang menjadi lemah, tidak punya harga diri. Kalau diberikan contoh: misalnya teman saya dipukuli orang, kalau saya memiliki moralitas budak maka saya akan bilang ke teman saya �ya sudah lain kali hati-hati mungkin orang itu sedang mabuk, mari ke dokter�, tetapi kalau saya seorang √úbermensch saya akan antusias �wah kurang ajar itu orang, kita pukulin balik aja sekarang!!� Contoh lagi kita bisa lihat dari orang yang ambisinya menguasai dunia dengan orang yang ingin menguasai satu desa, mana yang merupakan ambisi luar biasa dari seorang manusia.

Pemikiran Nietzsche ini mengkritik bagaimana moralitas itu hadir dalam kehidupan kita dan menjadi tolak ukur dalam mempertimbangkan tindakan kita dalam menyikapi satu hal. Dengan ini Anti moralitas Nietzsche menampar pemikiran yang kita ketahui sebagai yang moralitas yang baik.

Sumber : aprillins.com
Diposting oleh — Minggu, 10 Juli 2011

Belum ada komentar untuk "Anti Moralitas Nietzsche Menampar Pemikiran"

Tambahkan komentar anda :