Jenghis Khan, Jejak Berdarah Sang Penakluk

Jenghis Khan
Judul Buku : Jenghis Khan; Legenda Sang Penakluk dari Mongolia
Judul Asli : Genghis Khan; Life, Death and Resurrection
Penulis : John Man
Penerjemah : Kunti Saptoworini
Penerbit : Pustaka Alvabet, Tangerang
Cetakan : Pertama, November 2008
Tebal : 576 halaman

Syahdan, awal 2003, mencuat segugus informasi pada jurnal bulanan, American Journal of Human Genetics. Sebuah tulisan bertajuk The Genetic Legacy of The Mongols, melaporkan penemuan penting adanya kesamaan pola gen pada populasi yang tersebar antara lautan Kaspia hingga Samudra Pasifik. Laporan itu adalah hasil riset dan kajian mendalam segerombolan ilmuwan genetika terhadap sampel pola DNA kromosom Y yang dimiliki sejumlah 2000-an pria di kawasan Eurasia. Singkatnya, mereka membuat kesimpulan cukup mengejutkan; ternyata dari 16 juta pria yang telah mereka teliti, merupakan bagian dari satu keluarga yang sangat besar.

Pada saat-saat pertama kali menyimpulkan akhir riset itu, Tatiana Zerjal, salah seorang peneliti, sempat bergumam: �Jenghis Khan!�. Meskipun pada awalnya dugaan tersebut mirip sebuah lelucon, dalam perjalanan waktu semakin banyak bukti (dari data-data yang telah ada), dan melakukan perhitungan untuk menentukan waktu dan tempat asal mula yang paling mungkin, bahwa keterangan itu merupakan penjelasan terbaik. Mereka berkesimpulan bahwa Jenghis dan bala tentaranyalah yang telah menyebarkan ciri genetika ini, dari penjuru China Utara sampai Asia Tengah antara tahun 1209 hingga kematiannya sekitar tahun 1227, saat mereka menginvasi daerah-daerah tersebut.

Jenghis Khan adalah tokoh sentral bangsa Mongol di abad 13. Sosok yang semasa kecil dikenal sebagai Temujin itu adalah seorang keturunan raja. Ayahnya, Yasugei, adalah seorang Khan (raja) yang mengepalai 13 kelompok suku Borjigin. Salah satu suku utama Mongol yang terkenal gagah perkasa. Saat ayahnya terbunuh dalam suatu kudeta perebutan kekuasaan suku Borjigin, Temujin baru menginjak usia 13 tahun. Karena itu, ia tidak pernah dianggap sebagai penggantinya.

Ketika Temujin menginjak usia remaja, ia menjadi pemuda yang tangkas dan berani. Bakat kepemimpinan yang mengalir di tubuhnya, semakin kelihatan saat ia berumur 20 tahun. Suatu kali, secara diam-diam Temujin mengumpulkan kembali seluruh pengikut ayahnya dan melatih mereka dengan disiplin keras. Singkat cerita, ia balik menyerang bekas lawan politik ayahnya dan merebut kembali tahta Khan suku Borjigin. Tak berselang lama, ia berhasil pula menyatukan suku-suku Mongol yang hidup terpencar antara sungai Dzungaria dan Irtish. Bahkan pada tahun 1202, Huraltai --majelis besar suku-suku Mongol, menahbiskannya sebagai Khan bagi seantero orang Mongol, dengan gelar fenomenal: Jenghis Khan, atau Sayyid al-Mutlaq dalam bahasa Arab, yang berarti raja diraja.

Mengenai sejarah penghancuran-penghancuran yang pernah dilakukan Jenghis, tak banyak orang tahu. Mungkin sepanjang ini, porsi yang paling sering kita dengar adalah penyerangan mereka atas kota Bagdad, Irak. Karena itu, buku ini hadir mengkhususkan diri ihwal bangsa Mongol dengan informasi yang memikat. Dari buku ini kita akan segera membaca berbagai ulasan menarik terkait bangsa Mongol dan seluk beluk kehidupan mereka. Lebih-lebih, perbuatan holocaust mereka atas beberapa wilayah yang merentang dari China utara, China barat, Kazahkstan selatan, Tajikistan, Transoxania, Samarkand yang dulu merupakan wilayah dinasti Islam Khwarezm, hingga wilayah Timur tengah dan sebagian Eropa.

�Belum pernah ada sebelumnya sebuah budaya yang memiliki dan menggunakan kekuatan untuk membinasakan seperti bangsa Mongol. Dan belum pernah juga sebuah budaya menderita sebagaimana yang tak lama lagi akan diderita dunia Muslim�, kata John Man, seorang travel writer ini.

Invasi dan sasaran Jenghis pertama adalah daerah-daerah tetangga. Tentunya, daratan China yang membentang luas itulah yang paling dekat. Padahal menurut John, yang juga penulis Gobi: Tracking the Desert (2001), China di abad 13 adalah wilayah yang terbagi atas tiga daerah dinasti besar yang kuat dan sedang bersaing ketat: Jin, Sung dan Xi Xia. Dari ketiga daerah ini, Xi Xia adalah titik terlemah yang diincar Jenghis. Negeri inilah kelak dalam catatan sejarah, negeri pertama yang digempur pasukan Mongol.

Penaklukan Baghdad

Tahun 1258, tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200.000 orang sampai di salah satu pintu Baghdad. Setelah diblokade puluhan hari, dinding-dinding kota Bagdad yang kuat itu diserang pasukan Hulagu Khan (salah seorang cucu Jenghis Khan). Tak ayal, kebiadaan segera meledak. Pembantaian, penjarahan, pemerkosaan dan pembakaran berlangsung di mana-mana. Bala tentara Mongol menjarah dan menghancurkan masjid, istana, rumah sakit, bangunan kota, kanal-kanal, tanggul sistem irigasi juga bangunan bersejarah. Tak ketinggalan, perpustakaan di kota Baghdad pun dihancurkan pula. Yang mengenaskan, ribuan koleksi buku dibuang ke sungai Tigris hingga warna air sungai itu berubah hitam sewarna tinta. Para penakluk biadab itu membunuh sekitar 800.000 penduduk, termasuk khalifah Abbasiyah, Al-Musta�sim, keluarga besar beserta seluruh pembesar kerajaan. Dalam sejarah, serangan ini mengakhiri era kekhalifahan Islam yang gilang gemilang.

Penaklukan kota megapolitan Islam itu barangkali dapat mewakili keingintahuan kita akan peristiwa laknat sepanjang sejarah umat manusia. Kota seribu satu malam yang menurut deskripsi John, dirancang berbentuk lingkaran sempurna dengan dinding pertahanan rangkap tiga yang dijaga 360 menara, berukuran sama dengan Paris di akhir abad kesembilan belas, dengan kekayaan yang tidak kalah itu, luluh lantah. Padahal Bagdad kala itu menjadi magnet kaum pedagang, cendekiawan serta ratusan seniman yang datang dari berbagai penjuru, seperti Spanyol dan India Utara (hlm. 242).

Sekitar tahun 1227, Jenghis Khan menemui ajalnya. Sebuah kematian yang rahasia, tak banyak orang tahu detailnya. Sampai sekarang kejadian yang hampir berumur 800 tahun itu masih menjadi mitos yang dikerumuni teka-teki. Diriwiyatkan, sebelum meninggal ia jatuh sakit gejala tifus. Sejarawan umumnya sepakat bahwa penyakit tersebut telah menjangkitinya, kurang lebih 100 kilometer selatan pegunungan Liupan, daerah Qing Shui, provinsi Gansu saat ini (hlm. 342-346). Dan, hingga hari ini, Jenghis Khan seperti menjadi sosok abadi yang terus hidup dalam gen seluruh keturunannya.
Membaca sejarah Mongol ibarat menyaksikan sejarah kelam diorama pembantaian manusia. Sebuah riwayat kelam praktik genosida yang juga pernah terjadi di negeri ini, sebelum era tanam paksa. Yakni saat pembangunan jalan mega raksasa Anyer-Panarukan di masa Daendels. Nyawa rakyat kecil yang terpaksa ditumbalkan untuk pembangunan jalan sepanjang 1.000 kilometer itu, menurut sumber Inggris, mencapai 12.000 jiwa. Sebuah praktik genosida yang tentu saja dapat kita sejajarkan dengan kekejaman bala tentara Jenghis saat itu.

Buku ini telah diracik penulis avonturir tersebut dengan riset pustaka sekaligus lapangan. Kian lengkap lagi tambahan rujukan dari dalam, The Secret History of The Mongols, yang diperkirakan telah berumur setua Jenghis. Karena itu, John Man tidak hanya handal mendiskripsikan bagaimana proses penaklukan yang dilakukan bangsa Mongol secara lihai dan mendetail. Lebih dari itu, ia juga menyembulkan sejarah penduduk dan keagungan peradaban kota-kota yang pernah dimusnahkan bala tentara Mongol.

Oleh: Misbahus Surur, pembaca sejarah, kuliah S-2 di UIN Malang

(pernah dipublikasikan harian Jawa Pos, pada 29 Maret 2009)
Diposting oleh — Sabtu, 16 Juli 2011

Belum ada komentar untuk "Jenghis Khan, Jejak Berdarah Sang Penakluk"

Tambahkan komentar anda :