Kakek Tukang Becak

Diam-diam, ia meninggalkan dunia ini dalam usia 93 tahun. Banyak orang mengingat dia � Bai Fangli, seorang tukang becak di China. Ini bukan sebuah dongeng - ia mendapatkan 350.000 yuan selama 20 tahun terakhir dalam hidupnya mengayuh becak untuk bertahan hidup dan menyumbangkan semua uang yang susah payah dicarinya untuk universitas, sekolah menengah dan sekolah dasar.

Kakek Tukang Becak

Dia hidup sendiri, sangat sederhana, pakaiannya hanya di badan dan ia tidak memiliki sepeser pun tersisa di rekening bank saat ia meninggal. Dia mengenakan pakaian dari tempat pembuangan sampah dan suka membantu orang lain dan tidak menghabiskan satu sen untuk membeli pakaian. Makan siang di luar rumahnya selalu roti tepung dengan secangkir air panas. Kadang-kadang, ia mengisi kecap dalam air panasnya. Di rumah, ia hidup hemat dan hanya makan sepotong daging atau telur saat makan. Tidak peduli seberapa keras Anda berusaha membujuk dia, akan sia-sia.

Dia akan berkata: "Simpan untuk makan berikutnya." Hari hari berlalu, liburan atau hari biasa, cerah atau berangin, ia bekerja dari pukul 06:00-20:00 dan tidak pernah libur. Melewati cuaca panas, musim dingin bersalju dan bahkan tertidur saat mengayuh becak adalah beberapa pengalaman yang telah dilewatinya. Dia bahkan pernah menarik becak saat demam tinggi dan keringat membasahi leher jaket katunnya.

Membayangkan peristiwa ini - seorang pria tua lemah dan rapuh mengayuh becak, dengan pakaian compang-camping, mengenakan topi jerami, pergi ke sekolah menyumbang tumpukan tebal uang kecil. Dia mengatakan kepada kepala sekolah bahwa dia ingin menyumbangkan uang tersebut kepada siswa miskin yang kesulitan membayar uang sekolah. Sekolah terkadang menerima sumbangan dari perusahaan besar. Sekarang, pertama kalinya bagi mereka menerima sumbangan dari pengayuh becak. Mereka terkejut dan sedih bersamaan. Untuk itu, pengayuh becak tua bertahan hidup sederhana selama belasan tahun.

"Saya tidak keberatan dengan sedikit kesulitan hidup, namun saya ingin melihat setiap anak bersekolah,�
Penyakit jantung koroner, tuli dan gangguan pencernaan adalah diagnosis terakhir dari dokter. Kakek mengatakan kepada anak-anak yang mengunjunginya di rumah sakit: "Setelah saya sembuh, saya akan mengayuh becak lagi agar mendapatkan lebih banyak uang untuk membantu anak-anak sekolah. "

Hanya sebuah becak dan radio transistor, harta kakek itu ketika ia meninggal.
Kakek itu berusia 93 tahun ketika ia meninggal. Dia tidak punya sehari pun kenyamanan di rumahnya selama 20 tahun. Dia bekerja sekeras itu agar anak-anak bisa pergi ke sekolah, meskipun mereka orang asing baginya.

Tidak sulit bagi seseorang untuk melakukan perbuatan baik, tetapi sulit bagi seorang kakek melakukannya selama 20 tahun tanpa keluhan. Dalam lingkungannya, ada pejabat pemerintah mabuk dan makan berlebihan, orang-orang kaya meraih segalanya bagi hati serakah mereka sendiri, bahkan melakukan korupsi. Tapi kakek itu tidak pernah menanyakan imbalan apa pun dari anak-anak sekolah yang telah dibantunya.

Kebahagiaan sang kakek berasal dari hati yang mengasihi! Kakek, sebuah becak, 350.000 yuan dan lebih dari 300 siswa miskin yang berhasil melanjutkan pendidikannya, semua menggambarkan bahwa kehidupan orang tua itu penuh dengan kesulitan, ketekunan dan kasih sayang.

Kisah nyata kakek ini tidak akan mudah terlupakan dan hanya seperti banyak kepribadian dalam sejarah Tiongkok - akan diingat selamanya. Dia telah menyentuh saya dan banyak orang lain dengan cara tak seorang pun bisa.

Sumber : erabaru.net
Diposting oleh — Sabtu, 02 Juli 2011

Belum ada komentar untuk "Kakek Tukang Becak"

Tambahkan komentar anda :