Kisah Tragis Seorang Wartawan

buku udin
Judul Buku  : Terbunuhnya Udin
Penulis  : Boaventura dan Heru Hendratmoko
Editor : Heru Hendratmoko
Pengantar      : DR. Arief Budiman
Cetakan I : Agustus 1997
Tebal : xiv + 186 halaman
Penerbit : Aliansi Jurnalis Independen dan Institut Studi Arus Informasi,  Jakarta.

Saat Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-51, 17 Agustus 1996, pada hari itulah, seorang wartawan bernama Fuad Muhammad Syafruddin atau biasa dipanggil Udin dikuburkan di pemakaman umum Trirenggo, Bantul. Lelaki yang lahir di Gedongan Trirenggo, Bantul, 18 Februari 1963 itu meninggal akibat dianiaya oleh orang tak dikenal di rumahnya pada hari Selasa malam, 13 Agustus 1996. Ia meninggal tanggal 16 Agustus setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit.

Beredar kabar kemudian kematian Udin berkaitan dengan berita-berita yang ditulisnya. Karena memang hampir semua berita-berita yang ditulis Udin merupakan berita-berita yang dengan cukup kritis menyoroti ketimpangan dalam masyarakat. Dan berita paling hangat dan paling panas yang dibikinnya adalah sosok Sri Roso Sudarmo, Bupati Bantul yang berpangkat kolonel dari AD itu.

Sebagaimana wartawan lainnya, Udin dengan tekun mengikuti perkembangan proses pemilihan Bupati Bantul periode 1996-2001, yang memang cukup alot dan rumit. Mulanya Sri Roso hampir bisa dipastikan tidak bakal mendapat kesempatan lagi untuk tampil kedua kalinya. Apalagi saat itu ada isyarat dari Danrem 072/Pamungkas, Kolonel (Inf.) Abdul Rahman Gaffar, "Si Roso dipersiapkan ke lain tempat." (hal 39- 40).

Tapi kemudian nama Sri Roso yang masa jabatannya terpaksa diperpanjang satu bulan itu, mencuat kembali ke papan atas bursa calon pemilihan bupati, selain beberapa nama pejabat militer lainnya. Dan suhu politik yang berkembang di daerah itu tentu makin hangat.

Berbarengan dengan meningkatnya suhu politik itu, tiba-tiba Udin tampil dengan laporan tentang adanya surat kaleng. Surat itu menyebutkan adanya calon bupati yang telah memberikan dana sebesar Rp. 1 milyar kepada salah satu yayasan cukup besar di Jakarta.

Meski tidak disebutkan siapa yang dimaksud dalam surat tersebut, di kemudian hari terungkap, tokoh yang ditunjuk Udin itu adalah Sri Roso dan Yayasan Dharmais, sebuah yayasan sosial yang langsung dipimpin Presiden Soeharto. Hal itu dibuktikan kemudian dengan ditemukannya Surat Pernyataan bersegel yang dibuat dan ditandatangani Sri Roso. Pada surat itu, Sri Roso menjelaskan bahwa, ia bersedia membantu Yayasan Dharmais Jakarta sebesar Rp 1 milyar setelah terpilih sebagai bupati periode kedua, 1996-2001 (hal 155).

Maka ketika seorang lelaki kekar menghantam bagian belakang kepala Udin, seperti dilaporkan Marsiyem, isteri Udin yang malang itu-- orang mengkaitkan kejadian itu dengan pemegang kekuasaan lokal di sana. Perhatian penyelidikan tentu saja mengarah kepada Bupati Sri Roso, yang banyak disebut-sebut dalam berita-berita yang ditulis Udin. Tetapi seperti banyak kejadian di Indonesia ketika pejabat birokrasi menjadi objek sebuah penyelidikan kasus kriminal, maka kasus itu menjadi terlunta-lunta. Meskipun berbagai upaya penyelidikan dilakukan oleh rekan-rekan Udin di harian Bernas maupun aparat kepolisian setempat, teka-teki kematian Udin tetap saja tidak terjawab. Malah, pihak kepolisian seperti salah tingkah dalam menghadapi kasus itu. Misalnya, darah Udin "dilarung" (dibuang) ke laut oleh pihak kepolisian, konon untuk menyesuaikan dengan tradisi setempat. Pihak kepolisian juga mengabarkan, sebagian darah Udin dikirim ke London, Inggris untuk diselidiki lebih lanjut. Tapi sampai setahun berlalu hasil penyelidikan itu tidak pernah diumumkan.

Jadi siapa sebenarnya yang membunuh Udin? Marsiyem meragukan bahwa yang membunuh Udin itu Dwi sumaji atau Iwik yang kini tengah disidangkan di Pengadilan Negeri Bantul (hal 22). Buktinya ketika Marsiyem ditunjukkan foto Iwik, ia dengan sangat yakin membantah bahwa yang membunuh suaminya bukan Iwik.

Penangkapan Iwik sendiri terkesan sangat janggal dan penuh rekayasa. Seperti pengakuannya kepada penasehat hukumnya dari Lembaga Pembela Hukum (LPH) Yogyakarta, karyawan perusahaan periklanan Dymas Advertising, Sleman itu, dibawa saat hendak berangkat ke kantor dengan menumpang bus. Di sana ia bertemu seseorang yang mengaku bernama Franky. Lelaki itu berniat memesan papan iklan di tempatnya bekerja. Tentu saja Iwik tidak mensia-siakan kesempatan tersebut. Kemudian Iwik diajak ke hotel Queen of the South. Katanya, di situ Iwik akan dipertemukan dengan seorang bos.

Sebelum menemui si bos, Iwik diajak minum minuman keras dan ditawari perempuan. Kemudian, saat bertemu si bos, pembicaraan yang ditunggu-tunggu Iwik pun berubah. Mereka tidak membicarakan masalah pemesanan papan iklan, tetapi soal "bisnis politik". Iwik diminta mau mengaku sebagai pelaku pembunuhan itu dengan imbalan yang tentu saja menggiurkan untuk pegawai yang bergaji sekitar Rp 150 ribu per bulan itu. Iwik dijanjikan mendapat pekerjaan, rumah, mobil, dan jaminan hidup. Sementara soal hukuman nanti bisa diatur.

Dan pada hari yang sama ada dua bos yang dipertemukan kepada Iwik di tempat terpisah. Janji yang diberikan kepada Iwik pun serupa. Setelah itu Iwik dibawa ke Mapolda DIY. Di markas polisi itu Iwik "dihadapkan" langsung dengan Kapolda DIY Kolonel (Pol) Mulyana Sulaiman. Di situ skenario berjalan sebagaimana diharapkan: Iwik mengaku sebagai pembunuh Udin (hal.137-138).

Tapi skenario itu, tidak bertahan lama. Tak lebih 12 jam kemudian, Iwik mencabut semua keterangan yang diberikannya kepada Kapolda. Ia menolak skenario yang telah disodorkan itu. (hal.139).

Memang banyak kejanggalan dalam kasus ini. Setelah sekian lama tertunda akibat lemahnya berkas perkara, akhirnya Iwik "dihadirkan" juga ke pengadilan dan disidangkan pada hari Selasa, tanggal 29 Juli kemarin. Padahal sebelumnya ia sempat menikmati kebebasan, karena pihak polisi tidak cukup punya bukti untuk menahannya berlama-lama.

Jika kelak Iwik divonis, adakah misteri kasus Udin ini menemukan jawabnya? Banyak yang meragukan itu. Termasuk Arief Budiman dalam pengantar buku ini. Berbagai informasi dalam buku setebal 186 halaman dan diterbitkan oleh Aliansi Jurnalis Independen dan Institut Studi Arus Informasi ini memberi gambaran yang cukup lengkap soal kasus Udin sejak awalnya. Ini tentu saja berbeda dengan buku yang pernah terbit, yang hanya memuat kliping-kliping berita Udin.

Sumber : tempo.co.id
Diposting oleh — Senin, 25 Juli 2011

Belum ada komentar untuk "Kisah Tragis Seorang Wartawan"

Tambahkan komentar anda :