Korea Utara Vs Korea Selatan, Komunis-Konservativ Vs Liberal-Kapitalis

Hari-hari ini, semenanjung Korea menjadi pemberitaan hangat di media Internasional, Korea Utara telah memukul gong pertunjukan, menabuh genderang perang, dan dunia berharap cemas, akan kondisi paling buruk yang bakal terjadi, bila perang itu serius ditanggapi oleh kedua Korea, ini akan menandakan krisis baru di Asia Timur, krisis baru ekonomi Asia, krisis baru Asia Tenggara, krisis baru dunia. Oleh karenanya, Jepang dan China berupaya keras agar kemungkinan terburuk itu tidak pernah terjadi, tapi siapa yang bakal tahu tentang hari esok?

Korea Utara Vs Korea Selatan

Semua tahu masalah Korea adalah sisa perang dingin yang seharusnya sudah berakhir, tapi kebekuan blok timur dan blok barat, yang menandakan dunia pertama dan kedua pada kenyataannya tak semudah itu hilang disapu sejarah. Patung Lenin memang telah tumbang, dan tembok Berlin telah runtuh, tapi tidak dengan Korea, tidak dengan Kuba, dan secara garis besar Eropa Timur (exs Unisoviet-Ortodok Yunani-Ortodok Russia) dengan Eropa Barat (Katolik Roma-Protestan) memang masih menyisakan jarak, China (neo-komunis) dengan Jepang (Kapitalis-Liberal) juga merupakan dua pusat Asia Pasifik yang berlomba untuk saling mempengaruhi di kawasan sekitarnya

Jangankan dengan kasus Komunis, Perang Salib yang sudah hampir seribu tahun berlalu saja, masih sangat membekas bagi dunia ini, prasangka tentang dunia Islam dan dunia Barat (Katolik-Protestan) bahkan masih menyusup ke dalam keyakinan masing-masing secara tersembunyi dan tidak disadari, Turki walau nyatanya sudah sangat terbaratkan dengan sekulerisasinya masih ditolak penuh keraguan kala menginginkan masuk dalam Uni Eropa, bahkan agama secara tidak langsung telah memecah Yugoslovakia menjadi negara kecil, Slovenia-Kroasia (Katolik), Serbia (Ortodok), Bosnia-Kosovo-Albania (Muslim), walau hampir seratus tahun Yugoslovakia sangat kiri dan sangat sekuler. Sedikit saja namun mengena pada isu lama ini, maka akan menuai badai besar kelak pada suatu harin (lepas dari maslaha muatan politik di dalamnya).

Kembali ke Korea, tidak seperti rezim Uni Soviet yang diruntuhkan oleh Glasnost Perestroika, yang justru dikumandangkan oleh dedengkot-dedengkotnya, karena mengakui ketertinggalan Uni Soviet dari rivalnya Eropa Barat. Korea Utara tidak memiliki sejarah �kegagalan ideologi�, hal sama terjadi pula di China, Vietnam, Laos, Syria, dan Kuba, ditambah lagi ideologi bukanlah suatu system organis dimana kala kepalanya tertembak (di Moscow) maka bagian tubuh yang lain akan roboh, tapi ia adalah system amoeba yang akan beranak pinak walaupun 99 % dari jumlah keseluruhan telah dimusnahkan, kenyataannya memang tidak ada pusat, dan komunis tidak akan pernah mati, walau ideologynya diberangus, karena ia tidak hanya menyusup di otak waras manusia, ia dan semua ideology lain bahkan mampu menembus hingga dikedalaman hati sanubari pemeluknya.

Jadi tidak ada hubungannya rasionalitas dengan ideology (dalam batasan dan catatan tertentu), bila ideology (tertutup ini) telah melembaga dengan sangat kuat (seperti halnya agama dan keyakinan) maka satu-satunya yang bisa menghancurkannya adalah melanjutkan debat mulut dengan perang besar sesungguhnya, rezim memang bisa digantikan, namun bila ideology berwujud dan bermetamorfosa menjadi keyakinan, maka sulit untuk bisa mengubahnya kecuali dengan mencuci otaknya. Komunis bukan lagi sekedar pemikiran untuk memusnahkan kelas, dan meruntuhkan feodalisme-borjuis seperti kelahirannya di masa Lenin dan Mao, karena sisi praktis ini telah hilang dan berganti dengan sisi emosional, sisi yang sangat privat, ini antara hargadiri dan bagian dari identitas personal, sejajar dengan agama dan keyakinan.

Apakah situasi ini benar-benar telah menjadi gambaran umum antara Komunis Korea Utara dan Kapitalis Korea Selatan ? orang Korea Selatan sebenarnya tidak berideologi karenanya mereka disebut berideologi Liberal, semua yang tidak berideologi dan cair maka bisa dikatan liberal. Dalam agama misalnya, sekaku apapun wujud agama, ia akan menyisakan celah dalam kebekuannya, ia akan menyisakan dialog dan kerjasama yang saling menguntungkan antar perbedaan, munculah Islam Liberal atau Kristen Liberal, Islam Inklusif atau Kristen Inklusif, dalam kasus China juga terjadi, komunis tapi relative liberal dalam beberapa aspek terutama ekonomi, dalam hal ini komunis mampu berdialog dengan situasi ekonomi, hal serupa terjadi di Vietnam.

Korea Utara Korea Selatan

Bila situasi Korea berlanjut menjadi peperangan, ini akan menambah sejarah panjang perang saudara di Dunia hanya karena Ideology-Keyakinan, Dulu ada perang sipil atau saudara: Amerika Serikat (utara-selatan), Vietnam (utara-selatan), Yaman (timur-barat), Indonesia (komunis dengan nasionalis-islamis), Latin, India (muslim Pakistan-Banlades dengan Hindu India), China-Taiwan (nasionalis-Kominis) dan lain-lain.

Perang-perang itu ada yang berakhir dengan perdamaian, ada yang berakhir dengan kemenangan salah satu pihak, ada yang belum berakhir, ada yang menyisakan luka besar. Korea adalah salah satu bagian yang belum berakhir, belum ada yang menjadi pemenang, dan masih pula meninggalkan luka lama. Bila memang dialog itu tidak terjadi, dialog yang tentu saja sangat dipengaruhi pula oleh kepentingan�kepentingan negara lain seperti Jepang, China dan juga dunia, ini akan menjadi uji pembelajaran akan perbedaan ideology yang masih menjadi masalah yang bisa menghancurkan dua saudara yang memiliki tanah yang sama selama ribuan tahun yang lalu.

Suatu contoh modern dimana persaudaraan darah menjadi tak berarti sama sekali hanya karena perbedaan Ideology dan keyakinan, hal sebenarnya yang masih lumrah terjadi dalam kehidupan keluarga di Indonesia dan bahkan di dunia semacam Amerika. Dan kembali korban sesungguhnya adalah rakyat,manusia-manusia biasa, anak-anak akan menanggung beban sejarah dan terutama dendam di masa datang. Adalah sebuah ironi tapi inilah kenyataannya di dunia yang untuk berhubungan dimanapun tinggal memencet tombol.

Sumber : kuilkata1001.blogspot.com
Diposting oleh — Minggu, 17 Juli 2011

Belum ada komentar untuk "Korea Utara Vs Korea Selatan, Komunis-Konservativ Vs Liberal-Kapitalis"

Tambahkan komentar anda :