Mao Zedong dan Reformasi Praksis

Dalam segenap aspek kehidupan politik RRC, pengaruh Mao Zedong merupakan kenyataan yang sulit di bantah. Kekuasaan politik dan dominasi Mao semasa hidupnya tak tertandingi oleh siapapun. Oleh karena itu, bagaiman Mao memandang dunia dapat dijadikan acuan dalam memahami gambaran dunia Cina komunis. Para aktivis dilapangan memang berbeda dari para pemikir di balik meja. Baik Sun Yat-sen maupun Mao Zedong adalah aktivis yang berjuang keras untuk mengembalikan kejayaan Cina. 

Mao Zedong dan Reformasi Praksis

Berbeda dari para intelektual yang berkutat dengan Konfusius dan mereka sebenarnya mempunyai tujuan yang sama yaitu yang seperti di atas. Karena para cendekiawan memainkan peranan penting sehingga membuat komunis berkemabang di Cina. Kaum komunis berjanai bahwa kesalahan-kesalahan Cina harus ditebus dengan suatu kampanye dunia yang dilancarkan atas nama manusia-manusia tertindas dimana-mana yang akan menghapuskan pemerintahn imperialis dari permukaan bumi.

Kenyataan bahwa di kalangan bangsa Cina sendiri banyak yang juga mengecam cara-cara Cina tidaklah menyebabkan menjadi lebih dapat diterimanya sikap mencari-cari kesalahan yang dilakuakan oleh orang-orang luar. Kampanya membenci Amerika yang dilancarkan oleh kaum komunis Cina merupakan suatu akibat yang masuk akal. Kaum komunis menafsirkan setiap pemberian dan setiap tindakan mulia yang ditujukan kepada Cina adalah akal-akalan dari kaum komunis. Selama dan sesudah perang dunia kedua, pemerintah nasionalis di bawah pimpinan Chiang Kai-shek menghadapi masalah-masalah yang tidak akan dapat diselesaikan secara berhasil sepenuhnya oleh pemerintahan manapun. Ketika kaum nasionalis mengambil tndakan untuk memerangi komunis di mana ini juga dimanfaatkan untuk memporakporandakan rakyat untuk menentang dunia barat

Namun perbedaan antara kaum komunis dan konfusius mempunyai kedudukan yang sama di Cina. Sun Yat-sen adalah seorang yang cenderung berpikiran elits. Ia mendirikan Tong Meng Hui yang bertujuan memberi bimbingan kepada masyarakat tentang hak politik. Namun Mao mempunyai pikiran yang berbeda yang dimana dalam organisasi dalam merumuskan kebijakan harus ah bersama dengan rakyat. Para pemimpin Cina Komunis juga memiliki kesadaran yang tinggi terhadap kemegahan dan kepahitan sejarah masa lalu Cina. Mengenai persatuan dan integritas nasional pad atahun 1939, Mao Zedong mengungkapkan perasaan yang sama, dia menyatakan bahwa Cina tidak akan pernah lagi menjadi bangsa yang dapat dihina.

Mao lebih berpijak pada pendekatan dialektik yang memandang faktor-faktor internal yang dianamis sebagai penyebab mendasarperkembangan social. Dalam aplikasinya pada lingkup hubungan Internasional, teori ini dipergunakan untuk mengidentifikasikan kotradiksi-kontradiksi utama pada situasi dan waktu tertentu. Mao berumur lebih panjang dari pada Sun yat-sen dan mempunyai karir yang lebih panjang pula. Ia lahir pada 1893 dan wafat 1976. ketika Mao ahkirnya berhasil memantapkan menjadi penguasa RCC.

Belajar sudah menjadi sifat alamiah orang-orang China. Sehingga tidak mengherankan bila sistem pendidikan formal berbentuk sekolah yang kita kenal sekarang ini di daratan China memiliki sejarah panjang 3.500-an tahun. Bahasa China sendiri, baik itu dialek nasional Mandarin atau dialek daerah-daerah (seperti Hokkian, Konghu, Khe, dan lainnya), mengharuskan siapa saja di daratan China harus belajar apakah itu huruf kanji maupun intonasi nada dalam bahasa percakapan.Sebelum berdirinya RRC pada tahun 1949, misalnya, sekitar 80 persen populasi negara ini buta huruf atau setengah buta huruf. Jumlah murid di sekolah-sekolah hanya tercatat 4,76 persen dari keseluruhan jumlah penduduk negara ini.

Keadaan ini berubah secara drastis bersamaan dengan berkembangnya pendidikan yang luar biasa. Pada akhir tahun 1997 tingkat buta huruf di negara ini tercatat 12 persen dari total penduduk, dan kurang dari enam persen di antara orang muda dan orang-orang usia menengah.

Hak istimewa Sistem pendidikan formal di daratan China berakar sangat panjang sampai pada abad ke-16 Sebelum Masehi pada masa Dinasti Shang (1523-1027 SM).Selama periode ini, pendidikan merupakan hak istimewa segelintir orang saja, dan bertujuan untuk menghasilkan pejabat-pejabat pemerintahan. Awalnya, kurikulum yang diajarkan terpusat pada yang disebut sebagai "Enam Senin", masing-masing ritual, musik, memanah, mengendarai kereta kuda, sejarah, dan matematika.

Namun demikian, bersamaan dengan tumbuhnya ajaran Konfusius (551-497 SM), terutama pada periode negara-negara berperang (770-221 SM), kurikulum ini secara perlahan ditambahkan dengan apa yang disebut Si Shu Wu Jing (4 Kitab 5 Klasik). Dalam 4 Kitab ini terdiri dari Analek Konfusius, Mencius, Ajaran
Besar, dan Doktrin tentang Arti, sedangkan 5 Klasik terdiri dari Buku Puisi, Buku tentang Dokumen, Buku Ritual, Buku tentang Perubahan, serta Sejarah Musin Semi dan Gugur. Seluruh buku-buku yang menjadi kurikulum utama pendidikan ini menjelaskan tentang prinsip masyarakat dan pemerintahan, termasuk di dalamnya tata perilaku manusia maupun rumusan filosofi Konfusius (Konghucu) secara kolektif.

Selama ribuan tahun ini di daratan China membangun pendidikan bagi sebuah kelas elite, dan mempertahankannya hanya untuk menghasilkan golongan pejabat kekaisaran di tengah-tengah buta hurufnya rakyat biasa. Menurut David Surowski dari Universitas Kansas, Amerika Serikat, dalam esainya tentang sejarah sistem pendidikan China, aktifnya pejabat kekaisaran dalam sistem pendidikan pada umumnya hanya sebatas menentukan ujian bagi berbagai tingkatan kedudukan jabatan kekaisaran. Memperluas jangkauan

Mao Zedong dan Reformasi Praksis

Selama ribuan tahun pula para elite di daratan China percaya bahwa secara sosial maupun intelektual mereka tidak memiliki saingan, terutama dibandingkan dengan kebudayaan Barat. Mereka mengembangkan kebudayaan yang sangat tinggi, dan terutama dengan "empat temuan" (mesiu, kompas, kertas, dan percetakan bergerak), para elite China juga memiliki tradisi teknologi yang luas.

Namun demikian, sejak kekalahan yang "memalukan" melawan Inggris dalam Perang Candu (1840-1842), China akhirnya mengkaji ulang dominasinya, setidaknya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Diikuti dengan aneksasi Hongkong, pendidikan Barat secara perlahan mulai berakar di China terutama melalui misionaris Kristen.

Berakhirnya Dinasti Qing dan berdirinya Republik China pada tahun 1921 menandai perubahan penting dalam percenaan pendidikan di China dan para pemimpin maupun ilmuwan mulai mencari sebuah sistem untuk menyediakan kebutuhan teknologi bagi negara tanpa mengorbankan identitas ke-china-annya, termasuk memperluas jangkauannya ke rakyat yang sebagian besar berada di wilayah pedesaan.

RestrukturisasiSetelah berdirinya RRC pada tahun 1949, mengadaptasi model Soviet dengan memfokuskan perhatian untuk mempertemukan kebutuhan teknologi melalui pendidikan tinggi, pemerintahan komunisme melakukan restrukturisasi atas universitas dan akademi. Upaya ini ternyata juga tidak membawa perubahan, terutama pada masa Kampanye Anti-Kanan pada tahun 1957 yang diikuti oleh kegagalan berbagai kebijakandan munculnya bencana alam di mana-mana.

Di tengah kegagalan ini, para pemimpin China berupaya kembali mengimbangkan Konfusianisme dan pendidikan gaya Barat dengan mengembangkan apa yang disebut sistem pendidikan dua jalur, masing-masing sekolah kejuruan dan kerja-belajar, serta universitas biasa, akademi, dan sekolah persiapan. Sistem ini hampir berjalan dengan baik sampai pecahnya Revolusi Kebudayaan (1966- 1976) ketika orang-orang menjadi curiga dengan sistem yang dilihat sebagai pendekatan yang akan kembali menghasilkan elite tertentu. Pada masa ini, seluruh sistem pendidikan mengalami kekacauan, administrasi kampus tidak berjalan semestinya, kuliah terhenti, sistem ujian masuk universitas ditunda, dan hanya beberapa mahasiswa saja yang diterima sampai dengan tahun 1970-an.

Unsur ideologi memang terasa sangat kental dalam sistem pendidikan dasar dan menengah di China. Coba saja masuk di salah satu sekolah, berbagai murid akan memberikan jawaban standar menyebutkan "akan berbakti untuk kemajuan China", dan sejenisnya. Sulit untuk masuk ke sekolah-sekolah guna mengetahui lebih mendalam apa yang terjadi di dalam sistem pendidikan di RRC. Dari berbagai percakapan dengan kepala sekolah, dosen, dan mahasiswa, sistem pendidikan di China berubah secara pesat, terutama dengan kehadiran sekolah-sekolah swasta.

Sumber : omahkucink.blogspot.com
Diposting oleh — Rabu, 13 Juli 2011

Belum ada komentar untuk "Mao Zedong dan Reformasi Praksis"

Tambahkan komentar anda :