Ratko Mladic Dan Misteri Serbia Bosnia

Slobodan Milosevic, tokoh perang Bosnia yang divonis Pengadilan Kejahatan Perang The Hague, meninggal di penjara lima tahun silam (tahun 2006). Kini menyusul tokoh perang Serbia Bosnia lainnya, Ratko Mladic. Jenderal berusia 69 tahun yang dijuluki �Penjagal dari Bosnia� itu juga menghadapi tuntutan kejahatan perang. Dia ditangkap di timur laut Serbia, di tempat persembunyiannya pada tanggal 26 Mei 2011, dan dibawa ke Den Haag untuk diadili pada tanggal 3 Juni 2011, dengan tuduhan terlibat penyiksaan dan pembunuhan atas 8.000 warga Muslim Bosnia.

Ratko Mladic Serbia Bosnia

Aksi brutal Mladic terjadi pada pertikaian tahun 1999. Pada masa krisis Serbia-Bosnia itu sebanyak 820.000 orang lari, dan mengungsi dengan jumlah terbanyak di Serbia, Kosovo dan Pristina. Masa krisis berbulan-bulan tersebut, menyebabkan kelaparan, sehingga badan pangan PBB�World Food Program, menyediakan pasokan makanan setiap harinya sebanyak 5.000 ton.

Di masa itu Panglima AS Jenderal Wesley Clark bertugas mengamankan Serbia-Bosnia agar tidak menjadi ajang pertempuran besar. NATO bekerja sama dengan pasukan non-pemerintah, yakni Tentara Pembebasan Kosovo yang moderat atau Kosovo Liberation Army (KLA), untuk menyangga keamanan nasional di Serbia-Bosnia.

Organisasi Pertahanan Barat NATO diaktifkan untuk meredam konfrontasi horizontal di jazirah Balkan tersebut. Berbagai kekerasan berupa pembunuhan massal dan pembersihan etnis dilancarkan Pemerintah Serbia, pimpinan Slobodan Milosevic dan panglimanya Jenderal Ratko Mladic. Foto-foto sang jenderal yang dirilis media Barat awal bulan Juni 2011, menunjukkan Ratko Mladic bersama para perwiranya, mengamati penjara penyiksaan, pada Perang Balkan dekade 1990-an itu.

Ratko Mladic dikatakan menderita stres berat ketika putri tunggalnya, Ana, bunuh diri pada tahun 1994 dengan senjata favorit ayahnya. Pembantu utamanya menceriterakan bahwa Mladic mengalami dua fase kehidupan. Yakni harus mengelola pasukannya, terutama ketika menghadapi gempuran NATO, dan yang kedua, putus harapan setelah putri kesayangannya, Ana, bunuh diri pada tahun 1994.

Dan sejak perburuan terhadap dirinya, Mladic yang menyingkir demi menghindari penangkapan, diduga mengubah wajahnya dengan operasi plastik. Namun dugaan itu keliru, karena ternyata penampilannya tetap asli. Penulis yang mengisahkan pelarian Mladic yakni Janine Di Giovanni menjelaskan, bahwa dia sering mendatangi makam Ana, yang terbuat dari marmer hitam di kawasan perbukitan Beograd, Ibukota Serbia.

Hilangkan Noda Hitam

Presiden bekas Yugoslavia sekarang, Boris Tadic mengomentari penangkapan dan peradilan Mladic sebagai peristiwa penting, yang menghilangkan noda hitam sejarah Serbia. Kini Serbia sedang berupaya menjadi anggota Uni Eropa, keanggotaan yang menjamin kerja sama ekonomi dan pembangunan Serbia serta negara-negara Eropa Timur. Negara-negara ini masih terbelakang ekonomi, kesejahteraan rakyat, dan penegakan hukumnya.

Kematian Ana Mladic sendiri menyimpan misteri. Mahasiswi Fakultas Kedokteran Beograd ini diduga amat terpukul, serta sulit menerima kenyataan tentang tindakan ayahnya yang kejam yang disiarkan secara luas oleh media Barat dan media dunia. Putrinya juga sulit menerima kenyataan tentang tuntutan hukum kejahatan perang yang dilakukan ayahnya, dan memutuskan tidak menggunakan nama keluarga Mladic. Bunuh diri dilakukan Ana Mladic, sekembali dari konferensi kesehatan di Rusia. Dia dimakamkan di makam publik opcidesko Grobilje, perbukitan di luar Ibukota Beograd. Para pejabat Serbia menyatakan, bahwa keluarga, termasuk ibundanya, Bosilijka, sama sekali tidak berziarah ke makam putri satu-satunya ini.

Jenderal Serbia ini harus menghadapi pengadilan internasional The Hague, Belanda, bulan-bulan ini karena tindakannya yang kejam, tanpa kompromi. Pengadilan khusus para penjahat perang Serbia-Bosnia itu disebut ICTY-International Criminal Tribunal for the Former Yoguslavia. Ketika wartawati Janine Di Giovanni meminta waktu mewawancarinya, Mladic memerintahkan para perwiranya segera membawa pergi sang wartawan. Bila Janine bersikeras, maka Mladic sendiri akan menyingkirkannya. Berbeda dengan pendapat publik dunia, rakyat Serbia menganggap Ratko Mladic adalah pahlawan yang dihormati. Namun sejarah kemanusiaan menempatkan Rakto Mladic dan Slobodan Milosevic sebagai penjahat perang, yang harus menerima hukuman yang setimpal.

Segera Teradili

Kesan kekerasan di Serbia, seperti pengakuan Presiden Boris Tadic kini berangsur terhapuskan, setelah Mladic tertangkap dan proses peradilannya segera digelar oleh ICTY. Sejarah kelam kemanusiaan di Serbia-Bosnia akan segera terungkap, dan teradili secara hukum, setelah penangkapan atas Slobodan Milosevic dan Ratko Mladic, dua tokoh perang serta dalang penyiksaan dan pembunuhan massal di bekas Yoguslavia itu.

Para ahli sejarah dan psikologi dapat mengungkapkan sebab-sebab kekerasan kemanusiaan tersebut. Apakah hanya karena fanatisme ideologi-kebangsaan yang ekstrem, atau kelainan kejiwaan karena rasa superioritas etnis dan politik, seperti halnya Adolf Hitler menghabisi jutaan orang Yahudi di era PD II. Atau ada penyebab-penyebab lainnya. Misteri Serbia-Bosnia akan terungkap melalui peradilan terhadap algojo dalam konflik sektarian di wilayah Balkan ini.

Kini kediaman Ratko Mladic di tepi Beograd, yakni Benovo Brdo, yang mirip villa kuno, didiami oleh putranya Darko yang menikahi seorang wanita Bosnia. Keluarga beda etnis dan keyakinan ini, kini menyatu dengan dua putra mereka dalam rangkuman hidup baru, mengabaikan sejarah masa lalu konflik etnis-agama Serbia-Bosnia yang rumit dan menderitakan.

Sumber : klikheadline.com
Diposting oleh — Senin, 18 Juli 2011

Belum ada komentar untuk "Ratko Mladic Dan Misteri Serbia Bosnia"

Tambahkan komentar anda :