Mudik: Terapi Manusia Modern

Sejak H-7 lebaran, di terminal-terminal, stasiun kereta, pelabuhan dan bandara disesaki oleh ribuan penumpang yang ingin mudik. Keinginan yang kuat untuk merayakan lebaran di kampung membuat mereka rela berdesakan, mengantri tiket, menunggu bus berhari-hari di terminal, rela naik ke atas gerbong kereta api, rela menempuh perjalanan ratusan kilometer dengan bawaan yang banyak sebagai oleh-oleh buat keluarga di kampung.

Orang berduyun-duyun pulang dari perantauan ke kampungnya masing-masing karena selama setahun mereka merasa kehilangan, sehingga mudik untuk menemukan kembali. Pulang kampung yang paling efektif adalah saat lebaran, semua keluarga pasti berkumpul dan kita bisa bercengkerama beberapa saat untuk menutupi kekecewaan hidup yang menggumpal di kalbu. Mudik menjadi momentum yang jangan sampai terlewat, karena masih lebih nikmat mengenang sejenak asal-usul budaya kita di kampung bersama keluarga di banding kehidupan nyata.

Mudik secara terminologi berarti kegiatan perantau atau pekerja untuk kembali ke kampung halaman. Tak peduli apakah kampungnya di pelosok hutan, di bawah kaki gunung atau malah kampungnya di kota besar. Teman saya yang bekerja di Medan setiap lebaran mudik ke kampungnya di kota Surabaya. Ada juga orang lain yang bekerja di pedalaman Papua, mudik ke Jakarta. Artinya, mudik berarti pulang ke rumah keluarganya, bisa dari kota ke kampung, dari kampung ke kota atau dari kota ke kota.

Meskipun sudah tinggal permanen di Jakarta atau kota-kota besar lainnya, tetapi rumah sejatinya adalah di kampungnya. Banyak orang yang sudah hidup puluhan tahun di luar negeri, tetapi hatinya tetap berdomisili di kampung kelahirannya. Tak hanya di Indonesia, tapi lebih

detail di rumah keluarga di kampungnya. Banyak di antara mereka bahkan impor istri dari kampung, karena rumah mereka di mancanegara haruslah tetap terasa di kampungnya.

Orang cari nafkah ke luar, mengembangkan diri, dari kampung bersekolah di luar, merantau bekerja cari penghidupan, mengadu nasib ke kota atau ke negeri orang. Gendangnya cuma ada dua; bisa sukses dan bisa gagal. Yang berhasil bisa jadi menteri atau pengacara terkenal, yang gagal jadi gelandangan di tepian jalan protokol. Di depan ada masa depan dan berujung maut, di belakang ada masa silam. Masa silam selalu lebih kuat dari masa depan, karena masa silam memberi kenikmatan tersendiri dalam khayalan setiap orang. Mengenang masa silam ketika masih tinggal di kampung halaman sungguh kenikmatan tiada tara.

Mudik bukan semata-mata hiburan atau untuk melepas rindu. Almarhum Gusdur pernah menyatakan bahwa mudik merupakan terapi massal yang biayanya tidak membebani pemerintah. Mudik sangat penting untuk mengisi kekosongan diri di tengah zaman yang menindas harkat manusia dan derajat kemanusiaan.

Kota-kota besar�jantungnya modernisasi�telah membuat manusia seperti robot. Manusia menjadi mesin yang secara ritual terikat pada kegiatan yang monoton. Pagi hari bangun, mandi, dan makan pagi. Setelah itu pergi ke tempat kerja untuk mengerjakan pekerjaan yang itu-itu saja. Setelah itu pulang, melakukan hal yang sama. Kegiatan itu berulang setiap harinya. Mereka, kata Lewis Yablonsky dalam bukunya berjudul Robopaths, bukan lagi manusia. Pada hakikatnya, mereka robot-robot yang digerakkan secara massal oleh para pemegang kebijakan, baik pejabat maupun konglomerat.

Itulah makna mudik. Dengan mudik, orang-orang yang sudah kehilangan jati dirinya dalam hiruk-pikuk kota ingin menemukan kembali masa lalunya di kampung. Mereka ingin kembali diperlakukan sebagai manusia. Mereka ingin meninggalkan�walau sejenak�wajah-wajah kota yang garang untuk menikmati kembali wajah-wajah kampung yang ramah. Mereka ingin mengungkapkan kembali perasaan kekeluargaan yang menyejukkan. Maka kita melihat anak yang hilang itu bersimpuh di hadapan orang tuanya, memohon maaf seraya menangis terisak-isak. Suami istri menjalin kembali cinta kasih mereka. Para tetangga dan sahabat saling bertegur sapa, menebar senyum dan menjalin keakraban kembali setelah setahun mereka tidak berjumpa.

Akhirnya mudik menyadarkan kita bahwa hakikat setiap detik perjalanan hidup ini berproses ke dalam lingkar inna lillahi wa inna ilaihi roji�un, yang oleh Emha Ainun Nadjib disebut sebagai mudik kosmologis (Kompas, 2008). Itulah prinsip utama kehidupan yang oleh kebudayaan manusia dialihkan menjadi tanda kematian. Orang tidak bisa tak mudik, karena hidup adalah pergi untuk kembali. Atau perginya orang hidup adalah kembali dan setiap tempat pergi adalah tempat kembali. Sejauh manapun kita pergi dalam kehidupan ini, suatu saat kita akan mudik, kembali ke pangkuan-Nya di "kampung halaman yang sejati".

Sumber : analisadaily.com
Diposting oleh — Rabu, 31 Agustus 2011

Belum ada komentar untuk "Mudik: Terapi Manusia Modern"

Tambahkan komentar anda :