Benarkah Serangan Umum Idenya Sultan HB IX?

Setiap bulan Maret, selalu mencuatkan dua kontroversi besar peristiwa sejarah perjalanan bangsa. Pertama, adalah soal siapa sebenarnya ide atau penggagas dan perancang Serangan Oemoem (Serangan Umum) 1 Maret 1949. Kedua, soal kebenaran Surat Perintah Sebelas Maret atau SP 11 Maret 1966 (Supersemar). Sebelum mantan Presiden RI HM Soeharto wafat, atau ketika masih hidup dan menjabat, tidak ada satu pun orang di Indonesia yang mempersoalkannya. Baru, setelah yang bersangkutan wafat, banyak orang bicara dan menganggap versi terdahulu tentang Serangan Umum 1 Maret dan SP 11 Maret tidak benar. Pertanyaan dan persoalannya, jika memang versi terdahulu tidak benar, lantas yang benar seperti apa?


Soal Serangan Umum 1 Maret 1949, Sultan Hamengkubuwono X belum lama ini mengungkapkan bahwa arsitek atau perancang serangan terhadap pendudukan Belanda di Yogyakarta itu sesungguhnya adalah bapaknya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Lantas bagaimana dengan Pak Harto? Mantan Pangkostrad ini bukan perancang sebenarnya sebagaimana versi yang selama ini dipercaya. Benarkah? Inilah persoalan yang selalu menjadi masalah dalam ilmu sosial. Seorang pakar sejarah mengatakan, sejarah selalu dibuat berdasar kepentingan penguasa pada saat itu. Artinya, kalau ada hal-hal yang kurang bagus atau tidak berkenan di kala sejarah itu akan dicatat, maka harus dibuang.

Pertanyaannya apakah kisah Serangan Umum 1 Maret 1949 juga adalah bagian dari sebuah rekayasa penguasa pada jamannya? Jawabnya, mungkin benar begitu, tapi bisa jadi sebaliknya. Artinya, apa saja bisa terjadi dan asumsi apa pun cukup terbuka. Jika kemudian Sultan HB X mengklaim bahwa peristiwa besar dan bersejarah tersebut adalah karya ayahandanya, boleh saja. Demikian pula bagi keluarga Cendana dan para pengagum Pak Harto. Mereka pun sah-sah saja mengklaim bahwa itu adalah ide dan gagasan orsinil Pak Harto. Lantas yang benar mana? Untuk menjawab ini, tentu bukan persoalan mudah. Bahkan ketika yang bersangkutan masih hidup sekalipun. Karena persoalan ini menyangkut gengsi, reputasi, dan sebagainya-sebagainya.

Namun fakta bahwa Pak Harto terlibat dalam peristiwa tersebut, berbagai sumber mengakuinya. Salah seorang teman dekat almarhum yang juga sekarang telah wafat, Ismail Saleh saat dulu ditanya tentang keterlibatan Pak Harto dalam peristiwa heroik tersebut, ia membenarkannya. �Jika ada orang yang meragukan tentang Pak Harto dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Silahkan orang itu ketemu saya. Karena saya adalah saksi hidup (waktu itu) yang tahu persis peristiwa itu. Saya ikut bertempur bersama Pak Harto,� katanya saat masih hidup.

Dengan pernyataan almarhum mantan Jaksa Agung yang dijuluki �Gareng� salah satu tokoh lucu (punakawan) dalam kisah pewayangan, mestinya tidak ada keraguan terhadap masalah tersebut. Namun, barangkali karena inilah era kebebasan, jaman demokrasi dimana orang boleh berbicara sekehendak hati, sehingga wajar pula jika ada yang mengklaim peristiwa bersejarah tersebut. Lebih dari itu, peristiwa ini memiliki rangkaian yang sangat kuat terhadap perjalanan sejarah bangsa. Karena akibat peristiwa tersebut, sikap dan pandangan dunia internasional terhadap penjajah Belanda dan Pemerintah Indonesia berbalik 180 derajat.

Jika semula dunia internasional percaya terhadap propaganda Belanda dan sekutunya, yang mengatakan tidak ada lagi pemerintahan di Indonesia. Melalui peristiwa tersebut mata dunia internasional terbuka lebar, jika bangsa ini terus bergerak dan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Dan sebagaimana kita ketahui, peristiwa itulah yang kemudian mampu menekan Belanda untuk melakukan gencatan senjata melalui perjanjian Roem-Van Roijen. Pada saat itu pemerintah Indonesia diwakili Mohammad Roem dan pemerintah Belanda diwakili JH Van Roijen. Perjanjian tersebut sebagai embrio terjadinya Konferensi Meja Bundar atau yang lebih dikenal KMB di Den Haag, Belanda

Kontroversi lain adalah perihal SP 11 Maret 1966. Banyak pihak meragukan keabsahan surat yang sekarang dianggap sebagai SP 11 Maret yang asli. Karena itu desakan untuk mencari SP 11 Maret terus bergulir, terutama berkaitan dengan suksesi yang terjadi pada saat itu. Dan ruang untuk melakukan tindakan semacam itu terbuka, ketika reformasi mulai digulirkan, dan demokrasi menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Hanya yang jadi pertanyaan dan persoalan adalah apakah itu penting bagi kita dalam keadaan sekarang? Apakah kita ingin kembali bernostalgia, sehingga perlunya mempersoalkan keautentikan surat tersebut?

Barangkali inilah yang menjadi ciri khas bangsa kita, terutama setelah bergulir reformasi. Kita selalalu berkutet pada persoalan-persoalan yang telah melintasi batas-batas sejarah. Kita selalu diajak menyelam ke dalam dan ke belakang, sehingga kita kerap terlena bahwa persoalan yang lebih besar telah menghadang kita. Dengan alasan reformasi kita kerap diajak untuk menginjak-injak norma dan keharuman bangsa serta para pendiri bangsa dan negara ini. Atas nama kebenaran kita diajak untuk mengoyak-oyak tubuh sendiri. Lantas apa yang kita peroleh dari semua itu?

Mungkin saja SP 11 Maret ada beberapa macam versi. Namun bisa saja hanya satu macam. Hanya persoalannya adalah mengapa selalu saja persoalan tersebut dibuka dan ditelanjangi justeru ketika para saksi sejarah telah tiada. Sehingga yang kita peroleh hanya kecapaian yang tanpa makna alias pencarian yang sia-sia. Dan lebih celakanya, kita juga tidak pernah menyadari, jika sebagian besar rakyat dan bangsa ini telah bosan diajak berputar-putar dan berkutat pada persoalan tersebut. Dan hal yang harus kita pahami, dalam ranah sejarah ada yang disebut fakta keras dan fakta lunak.

Fakta keras adalah sebuah fakta yang sulit terbantahkan dan tidak akan jadi kontroversi, misalnya peristiwa Kemerdekaan RI. Semua orang tahu, itu terjadi pada 17 Agustus 1945. Kemudian fakta lunak adalah fakta sejarah yang memungkinkan terjadinya banyak perdebatan dan kontroversi. Peristiwa SP 11 Maret 1966 adalah termasuk dalam fakta lemah atau lunak. Maka tidak mengherankan jika selalu jadi perdebatan. Hanya bagi kita yang ingin melihat bangsa dan negara ini lebih baik, tentu akan bertanya: Apakah untungnya mempersoalkan masalah yang usang dan para pelakunya sudah almarhum? Mengapa kita tak lebih baik kubur saja masalah tersebut, sebagai rasa hormat kita kepada para pendiri dan bapak bangsa?

OLEH : ARIEF TURATNO

Sumber : jakpress.com
Diposting oleh — Senin, 19 September 2011

Belum ada komentar untuk "Benarkah Serangan Umum Idenya Sultan HB IX?"

Tambahkan komentar anda :