Gelar Pahlawan Nasional untuk Keturunan Tionghoa

Sehari sebelum peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November, Presiden SBY menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada tiga tokoh nasional. Beberapa orang mendapatkan bintang penghargaan. Salah satu tokoh yang menarik perhatian adalah Purnawirawan TNI AL yang sudah almarhum, Daniel Yahya Dharma atau John Lie Tjeng Tjoan. Dia menjadi orang keturunan Tionghoa pertama yang mendapatkan gelar Pahlawan Nasional di Indonesia.

Sesudah Indonesia merdeka Daniel Yahya Dharma berjuang menembus blokade Belanda di perairan Indonesia. Ini terjadi sekitar tahun 1947-1948. Dia berlayar dengan perahu kecil bernama the Outlaw ke perairan Selat Malaka dan Thailand untuk membawa hasil bumi Indonesia dari Sumatra untuk ditukarkan dengan uang dan senjata. Uang dan senjata itu dia serahkan pada gerilyawan Tentara Nasional Indonesia. Aksi heroik ini dia lakukan paling tidak lima belas kali. Dia mempertaruhkan nyawanya di laut.

Yahya Dharma atau John Lie pernah bekerja di KPM, perusahaan kapal Belanda, yang sekarang menjadi Pelni. Setelah Indonesia merdeka dia kembali ke Indonesia dan bergabung dengan angkatan laut. Namun Yahya Dharma tidak bisa dibandingkan seperti Poncke Prinsen, seorang tentara KNIL yang berputar haluan membela Indonesia. Walau pernah bekerja di perusahaan Belanda sebelum masa kemerdekaan, Dharma tidak pernah jadi tentara Belanda.

Momentum Sejarah

Aswi Warman Adam menjelaskan bahwa penganugerahan ini adalah momentum yang patut dicatat dalam sejarah Indonesia karena Yahya Dharma adalah keturunan Tionghoa pertama yang mendapat gelar pahlawan nasional. Selama lebih dari lima puluh tahun diadakannya pemberian gelar pahlawan nasional, tokoh etnis Tionghoa belum pernah diberikan penghargaan. Walau sudah ada tokoh yang mendapat Bintang Mahaputra seperti kepada Rudi Hartono, pemberian gelar pahlawan nasional belum pernah terjadi.

John Lie Tjeng

Ini mungkin terjadi karena pada masa Orde Baru, kata-kata Tionghoa dan China itu diidentikkan dengan musuh atau sesuatu yang tabu untuk dipelajari. Sehingga ketika itu tidak terpikirkan untuk memberikan gelar kepada mereka. Bahkan dikriminasi yang justru terjadi. Istri sang pahlawan, Margaretha Yahya Dharma menjelaskan makna penghargaan ini bagi dirinya dan keluarga adalah mengetahui bahwa apa yang telah dia lakukan sang suami dihargai orang banyak. Hanya saja dia menyayangkan pemberian gelar diberikan ketika Yahya Dharma telah lama meninggal dunia.

Riwayat John Lie

Mayor John Lie Tjeng Tjoan. lahir di Menado 19 Maret 1911 dari ayah bernama Lie Kae Tae dan ibu bernama Maryam Oei Tjeng Nie (keduanya penganut Budha). John Lie meninggal karena stroke 27 Agustus 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Mendapat Tanda Jasa Pahlawan dari Presiden Soekarno tahun 1961 dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 November 1995

Ia adalah mualim kapal pelayaran niaga milik Belanda KPM yang lalu bergabung dengan Angkatan Laut RI. Semula ia bertugas di Cilacap dengan pangkat kapten. Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan sekutu.Atas jasanya pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor. Ia lalu ditugaskan mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas Negara yang saat itu masih tipis. Pada masa awal (tahun 1947), ia pernah mengawal kapal yang membawa karet 800 ton untuk diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura,Utoyo Ramelan.

Sejak itu,ia secara rutin melakukan operasi menembus blockade Belanda.Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata. Senjata yang mereka peroleh lalu diserahkan kepada pejabat Republik yang ada di Sumatera seperti Bupati Riau sebagai sarana perjuangan melawan Belanda.Perjuangan mereka tidak ringan karena selain menghindari patroli Belanda,juga harus menghadang gelombang samudera yang relative besar untuk ukuran kapal yang mereka gunakan. Untuk keperluan operasi ini, Mayor John Lie memiliki kapal kecil cepat,dinamakan the Outlaw.

Pernah saat membawa 18 drum minyak kelapa sawit, ia ditangkap perwira Inggris. Di pengadilan Singapura ia dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum. Ia juga mengalami peristiwa menegangkan saat membawa senjata semiotomatis dari Johor ke Sumatera, dihadang pesawat terbang patroli Belanda. John Lie mengatakan, kapalnya sedang kandas. Dan penembak, seorang berkulit putih dan seorang lagi berkulit gelap tampaknya berasal dari Maluku, mengarahkan senjata ke kapal mereka. Entah mengapa, komandan tidak mengeluarkan perintah menembak. Pesawat itu lalu meninggalkan the Outlaw tanpa insiden, mungkin persediaan bahan bakar menipis sehingga buru-buru pergi.

Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan komandan batalyon Abusamah, mereka lalu mendapat surat resmi dari syahbandar bahwa the Outlaw adalah milik Republik Indonesia dan diberi nama resmi PPB 58 LB. Seminggu kemudian John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya untuk mendirikan naval base yang menyuplai bahan bakar, bensin, makanan, senjata, dan keperluan lain perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menikah di Usia 45 tahun dengan Margaretha Dharma Angkauw tahun1956. Perkawinan ini tidak dikaruniai anak. Pada awal 1950 ketika ada di Bangkok, ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KSAL Subiyakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali. Pada masa berikut ia aktif dalam penumpasan RMS di Maluku, lalu PPRI/Permesta. John Lie juga di kenal dengan nama Jahya Daniel Dharma tetap berdinas di Angkatan Laut, terakhir berpangkat Laksamana Muda.

Sumber : surya.co.id
Diposting oleh — Senin, 26 September 2011

Belum ada komentar untuk "Gelar Pahlawan Nasional untuk Keturunan Tionghoa"

Tambahkan komentar anda :