Kisah Bocah Penambang Sampan Di Pekanbaru

Pekerjaan sebagai penambang atau pencari penumpang dengan kapal kecil sudah dilakukan Deby sejak beberapa tahun yang lalu. Deby, bocah berusia 13 tahun bukanlah satu-satunya orang yang bekerja mencari penumpang di Sungai Siak, Pekanbaru. Sejumlah penambang atau istilah mencari penumpang ini, juga banyak dilakoni sejumlah masyarakat lainnya. Deby yang merupakan anak sulung dari tiga bersaudara ini mengaku harus adu cepat bersama penambang lainya untuk mencari rezeki di antara penumpang yang baru tiba dari berbagai tempat tersebut.


Doa serta rezeki dari kapal kecilnya menjadi harapan anak yang bercita-cita ingin menjadi pemain bola terkenal ini. "Kalau rezeki tidak kemana Bang, mungkin kebanyakan penumpang memilih saya juga karena kasihan," ungkapnya saat berbincang, beberapa waktu lalu. Untuk sekali mengatar ke tujuan yang jarakna tidak terlalu jauh, Deby hanya mematok tarif Rp 1.000 per orangnya. Sekali berangkat Deby bisa membawa penumpang dari tiga sampai empat orang. Ini tentu sangat melelahkan dan tidak sebanding dengan tubuh mungilnya.

"Ya memang capek dan berat, tapi karena sudah menjadi kebiasaan jadi tidak begitu kita pikirkan, yang penting kita dapat rezeki," imbuhnya. Setiap harinya dari pukul 12 hingga petang, Deby bisa meraup rezeki hingga Rp20 ribu. Selain itu, tambahan uang jasa yang selalu diterima Deby juga merupakan kebaikan dari penumpang yang setia menumpang sampannya.

"Kebanyakan penumpang langganan saya itu dari penduduk sini yang ingin menyebarang saja. Saya bersyukur dengan apa yang saya miliki saat ini. Namun saya bercita-cita tetap berpretasi di sekolah untuk mengejar cita-cita saya," harapnya sembari menyeka keringat.

Di saat bel sekolah tanda pulang berbunyi, Deby (13) langsung bergegas pulang ke rumahnya. Namun tidak seperti anak kebanyakan, bocah yang masih berusia 13 tahun tidak mengabiskan waktu untuk bermain dengan temannya, namun langsung bekerja mencari penumpang.

Pekerjaan yang dilakukannya pun bertarung dengan maut. Ini karena Deby harus mengayuh sampan di Sungai Siak, Pekanbaru yang dikenal sebagai sungai terdalam di Indonesia. Jasa sampan yang dia geluti ini, menyeberangkan penumpang dari Kecamatan Rumbai yang dibelah sungai menuju pusat kota Pekanbaru.

Sampan yang dia miliki ini ukurannya lumayan besar jika dibandingkan dengan tubuh kurus yang dimiliki Deby. Sampan dayung itu dengan lebar satu meter panjang empat meter. Sampan inilah yang saban hari sebagai alat transportasi warga Rumbai untuk lebih cepat sampai ke pusat kota, tepatnya di pelabuhan Sungai Duku, ketimbang harus melintasi jembatan Layton yang memakan waktu lumayan lama.

Teriknya sinar matahari dan gelombang di Sungai Siak ini tidak membuat yang duduk dibangku kelas 2 SMP ini berhenti untuk mencari rezeki untuk membantu kebutuhan ekonomi keluarganya. "Saya pulang sekolah sekira pukul 12.00 WIB. Setelah itu saya langsung nambang (mancari penumpang)," kata Deby dalam perbincangan dengan okezone, beberapa waktu lalu.

Walau sebenarnnya dia ingin banyak bermain dengan teman seusianya, namun kebutuhan ekonomi yang memaksanya harus membantu orangtuanya. Bila sedikit tersisa, uang hasil mengayuh sampan ini buat jajan di sekolahnya. Namun demikian, selama menambang Deby mengaku bisa membagi waktu antar sekolah maupun mencari uang. Waktu luang pada malam hari lah yang bisa membuatnya berbagi antar bermain dan belajar.

"Prestasi sekolah saya juga baik bang, saya tidak begitu terganggu dengan pekerjaan saya sekarang," kisah Deby yang orangtuanya bekerja di Pelabuhan Sungai Duku. Satu lagi untuk kita renungkan bersama, sudahkah kita selama ini bersyukur dengan kondisi kita sekarang.

Sumber : news.okezone.com
Diposting oleh — Selasa, 20 September 2011

Belum ada komentar untuk "Kisah Bocah Penambang Sampan Di Pekanbaru"

Tambahkan komentar anda :