Kisah Mengharukan Si Gajah Liar Riau

"Tuk... Bangun Tuk". Sayup-sayup terdengar suara Ilham (8) membahana di antara kerumunan. Bocah kelas dua di salah satu SD Negeri di Duri, Bengkalis, Riau, itu terus memanggil-manggil. "Bangun Tuk, kasihan anakmu," cetusnya perlahan. Ia terus memanggil-manggil. Tapi yang dipanggil Tuk hanya diam tak beranjak dari tengah jalan. Sementara anaknya, yang diperkirakan berumur empat bulan berjalan mengelilinginya.

Tuk atau Datuk merupakan panggilan kehormatan yang diperuntukkan bagi gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumteranus) di Riau. Induk gajah liar mencoba untuk bangkit. Tetapi usahanya sia-sia, ia tak kuasa mengangkat badannya yang berbobot lebih dari satu ton. Belalainya pun hanya mampu bergerak perlahan. Panas terik pun, menjadi salah satu penyebab ia semakin kesulitan untuk bergerak.

Melihat kondisi induknya yang tak berdaya, anak gajah liar pun tak tinggal diam. Ia terus menjaga induknya dan mengejar siapa saja yang mendekati induknya. Bahkan beberapa jurnalis yang mengambil foto pun dikejar oleh anak gajah. Tak lama kemudian, salah seorang warga melemparkan makanan berupa dedaunan, batang pisang, tebu dan kelapa muda. Oleh anak gajah tersebut, kelapa muda tersebut diinjaknya dan dengan belalai ia memasukkan air kelapa ke mulut induknya itu. Anaknya dengan setia juga memeraskan tebu untuk ibunya.

Mendapat asupan nutrisi, induk gajah terus mencoba bergerak, memutar-mutar tubuhnya berusaha bangkit. Warga yang berada di Perumahan Cendana, Desa Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Bengkalis pun tak ketinggalan dengan menyiramkan air ke tubuh gajah. Tujuannya, agar induk dan anak gajah tidak kepanasan.

Ajaib, pada putaran keempat induk gajah dapat bangkit walaupun sekujur tubuhnya luka-luka akibat gesekan di aspal. Induk gajah tersebut bangkit, walau hanya bisa berdiam diri. Dari sudut matanya, keluar bulir-bulir air mata. Melihat itu, sang anak langsung mendekat dan berlindung di balik ibunya.

"Gajah merupakan hewan dengan tubuh besar dan penampangnya juga besar. Makanya mudah kepanasan dan salah satu upaya penyelamatannya dengan menyiramkan air ke tubuhnya," ujar salah seorang warga Ayang Basri. Rumah Ayang, hanya berjarak lima meter dari lokasi gajah. Ia yang sehari bekerja sebagai guru di SMA Cendana, tak menyangka bunyi benda jatuh pada Rabu(23/3) dini hari adalah pertanda pingsannya gajah.

Menurutnya, warga di perumahan guru itu sudah terbiasa dengan kehadiran gajah. Hampir setiap dua bulan sekali, gajah liar datang dan memakan tanaman di sekitar perumahan. "Bahkan kami sengaja menanam makanan gajah di luar perkarangan. Tidak masalah bagi kami, gajah liar itu kan hanya mencari makanan, tidak mengganggu," jelasnya.

Warga pun tak ketinggalan dengan bahu membahu mengumpulkan sumbangan untuk membeli makanan gajah. Bahkan pihak PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) juga menurunkan petugas pemadam kebakaran untuk menyiram tubuh gajah. Induk dan anak gajah liar terpisah dari kawanannya yang berjumlah 40 orang. Sudah dua pekan lamanya, induk dan gajah memblokir jalan di perumahan guru itu.

"Malah sebelumnya gajah berada di belakang perumahan. Tapi karena sama orang sana melempari gajah, terpaksa kami menggiringnya kemari. Kami tak kuasa, melihat gajah itu disakiti," timpal Didi, warga lainnya. Ia menyebutkan, gajah liar kadang mendapatkan perlakukan yang tak semestinya dari masyarakat khususnya yang berada di belakang perumahan. Pada mulanya, pihaknya memaklumi mengapa warga tersebut begitu anarkis pada gajah. Salah satu sebabnya, mata pencaharian mereka sebagai petani.

"Memang gajah memakan hasil pertanian mereka, tetapi seharusnya jangan begitu memperlakukannya. Apa salahnya memberikan makan mereka dengan menanam tanaman diluar pagar," tukas dia. Lagi pula, lanjut Didi, gajah lebih dahulu menetap di daerah itu dibandingkan warga yang mayoritas berasal dari Sumatera Utara. Bahkan tak jarang, kata Didi, warga melemparkan api pada gajah.

"Lihat saja, kuping induk gajah itu. Banyak bekas luka, besar kemungkinan dianiaya orang belakang. Tadi ada juga warga yang melihat mereka menyiapkan bom molotov untuk mengusir gajah," jelas Didi sembari menyebutkan bahwa daerah tersebut merupakan lintasan gajah dalam mencari makan.

Akibat tindakan anarkis itu, lanjutnya, maka jangan heran di daerah yang merupakan kawasan Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja sering terjadi konflik antara manusia dan gajah. "Karena sebelumnya mereka (gajah-red) diganggu. Coba kalau tidak, pasti tidak akan diganggu kawanan gajah. Kalau sudah seperti itu, yang disalahkan juga gajah. Gajah itu ingatannya kuat dan terkenal pendendam," kata lelaki gempal itu.

Usai kejadian Rabu lalu, induk gajah terus menunjukkan perkembangan positif. Jika usai pingsan, induk gajah hanya bisa berdiam diri di tengah jalan, sudah bisa berjalan mengelilingi komplek perumahan. Apalagi tim medis dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memberikan suplemen kepada induk gajah melalui buah-buahan.

Petugas BBKSDA WWF dan warga pun kesulitan menggiring induk dan anak gajah liar ke hutan. Tak jarang, gajah bukannya ke hutan malah berjalan ke jalan raya dan membuat jalan macet, hingga akhirnya bisa dipindahkan ke hutan yang berada di area pemukiman CPI, Duri.

Temui ajal

Namun sayang, pulihnya kondisi gajah tak berlangsung lama. Berselang tiga hari usai pingsan yang pertama, Sabtu (26/3) malam induk gajah menghembuskan nafas terakhir, setelah pada siangnya pingsan kembali dan dipisahkan dari anaknya. Petugas terpaksa melakukan evakuasi anak gajah untuk bisa memberikan penanganan medis kepada induknya. Tim medis pun sudah berupaya maksimal dengan memberikan infus dan memeriksa sampel darah gajah.

Entah kenapa, usai ditinggal mati induknya, di pelupuk anak gajah keluar bulir-bulir air mata terus mengalir. Anak gajah itu seakan tahu, ibunya akan meninggalkan dirinya untuk selamanya. Beberapa petugas yang tengah melakukan otopsi pun tak kuasa menahan haru melihatnya.

Samsuardi, dari WWF Riau menyebutkan besar kemungkinan gajah tersebut diracun. Salah satu pertandanya adalah belalainya yang gemetar dan geraknya yang lemah. "Dari tanda-tanda tubuhnya, memang induk gajah dalam keadaan teler," tukas Samsuardi yang merupakan salah seorang staf Human Elephant Conflict Mitigations ini.

Sementara itu, drh Rini Deswita dari BBKSDA Riau, menyebutkan bahwa gajah tersebut mengalami gangguan pencernaan dikarenakan induk gajah selalu memuntahkan apa yang dimakannya. "Selain itu juga mengalami dehidrasi. Untuk kepastian, apa penyebabnya akan diketahui setelah dilakukan otopsi," tukas dia.

Kondisi lemah ini, lanjut dia, juga dipicu karena menyusui anaknya. Menurutnya, ketika usia anak berumur kurang dari setahun yang mengasuh anak gajah adalah gajah betina lain, sedangkan induknya fokus mencari makan. "Tetapi ini kan tidak, induknya langsung memegang peranan ganda," tambah dia.

Hutomo, Kepala Seksi Wilayah III BBKSDA Riau, menyebutkan pihaknya telah berupaya maksimal untuk menyelamatkan gajah. Sejak kejadian pingsan yang pertama, lanjut dia, pihaknya terus memantau perkembangan gajah. "Kita sudah berupaya maksimal untuk menyelamatkan gajah. Bahkan sudah mendatangkan gajah jinak untuk membantu pemberian perawatan medis kepada induk gajah," ujar dia.

WWF Riau mencatat di kawasan SM Balai Raja masih terdapat 40 ekor gajah liar. Pada tahun 1990, SM Balai Raja mempunyai luas 16 ribu hektar, tetapi saat ini hanya tersisa 120 hektar karena sudah beralih fungsi menjadi pemukiman dan perkebunan kelapa sawit. Akibat pengalihfungsian ini, konflik antara manusia dan gajah pun menjadi sulit dihindari, khususnya warga yang berprofesi sebagai petani.

Pemerintah daerah, dalam hal ini, seharusnya mengambil peran agar konflik itu tidak berlarut-larut. Apalagi, sampai memakan korban nyawa, baik manusia ataupun gajah, seperti kisah mengharukan sang anak gajah liar yang ditinggal mati induknya itu.

Sumber : antarariau.com
Diposting oleh — Minggu, 18 September 2011

Belum ada komentar untuk "Kisah Mengharukan Si Gajah Liar Riau"

Tambahkan komentar anda :