Kontroversi Eksistensi Burung Pelatuk Berparuh Gading

Setiap pagi, Michael Collins pergi ke rawa Pearl River yang terletak di dekat rumahnya di Louisiana untuk melihat-lihat burung selama beberapa jam sebelum bekerja. Ia mengitari rawa dengan kayak. Membawa kamera, tape recorder dan tali untuk memanjat pohon. Hari demi hari, ia mencari burung suci. Pencariannya pun tidak sia-sia: sekilas, matanya berhasilmenangkap burung pelatuk berpatuh gading.

burung pelatuk
Sungguh hal yang luar biasa bila ia berhasil melihatnya. Sebab, tidak ada yang bias memastikan jika burung yang dijuluki �Burung Raja Dewa� itu masih hidup. Sementara ahli ornitologi�selama 60 tahun�menganggap burung itu sebagai burung pelatuk terbesar di Amerika Serikat dan John James Audubon menggambarkannya sebagai �graceful to the extreme.� Burung itu telah terjerumus ke jurang kepunahan sejak tahun 1930-an.

Collins mengaku telah melihat burung itu lebih dari satu kali. �Aku tidak akan menari di sekitar masalah ini. Aku sudah melihat mereka sekitar 10 kali penampakan. Aku juga sudah memperoleh tiga video,� kata Collins kepada Life�s Little Misteri.

Collins memang bukan ahli ornitologi. Ia hanya mempunyai hobby mengintai burung. Mungkin karena latar belakang itulah, bukti-bukti yang ia sodorkan ditolak oleh jurnal ilmu ornitologi. Oleh karena itu, ia kemudian berbalik ke ilmuwan-ilmuwan akustik untuk mengkonfirmasi rekamannya. Bulan ini ia akhirnya akan mempublikasikan apa yang ia percaya sebagai bukti kuat bahwa burung pelatuk berpatuh gading tinggal di Pearl River dalam Journal of Acoustical Society of America.

Collins, seorang peneliti di Naval Research Laboratory-Stennis Space Center di Mississippi, pertama kali mulai mencari burung ketika tim ahli ornitologi Cornell menangkap rekaman putatif seekor spesies di Arkansas pada tahun 2005. Itu mungkin menjadi penampakan pertama yang terdokumentasi dengan baik (meskipun tidak definitif) sejak sekitar tahun 1940 sehingga menjadi sampul depan Science Magazine. Burung-burung itu dikatakan telah tinggal di Pearl River di masa lalu sehingga ketika Collins mendengar bahwa mereka mungkin masih ada sebagai spesies, ia memutuskan untuk mencari mereka di sana.

Collins membuat rekaman audio-visual dengan jarak 75 meter dari daratan. �Idenya adalah memilih pohon tertinggi dan memanjatnya hingga ke puncak agar aku bisa melihat burung hingga seperempat mil jauhnya Tapi, luar biasa, burung itu sebenarnya terbang di bawah pohon, tempat aku berada, di sepanjang rawa,� katanya.

Dengan menganalisis ukuran burung dan menghubungkannya lingkungan di sekitarnya dalam video, Collins menetapkan bahwa lebar sayap burung itu sekitar 30 inci dan memiliki kecepatan terbang sekitar 15,6 meter per detik (35 mph)� menurut catatan sejarah, burung itu jauh lebih cepat dibandingkan burung pelatuk lainnya. Collins juga menganalisis warna burung dan menemukan bahwa terdapat pola putih-hitam pada sayapnya, sebuah cirri yang tidak dimiliki burung pelatuk lainnya.

Rekaman audio juga berbau �Burung Raja Dewa.� Burung itu ketukan yang sangat berbeda saat mematuk. Burung itu membuat vokalisasi menyerupai blue jay dan ada pula yang menyerupai ketukan burung pelatuk lainnya. Collins menggunakan keahlian matematikanya untuk membangun model akustik vokalisasi burung itu.

Jadi mengapa penelitian Collins tidak diterbitkan dalam jurnal ilmu ornitologi?

�Kecemburuan profesional adalah masalah besar dalam ilmu ornitologi,� kata Collins. �Ada kelompok yang telah menerima banyak dana untuk memperoleh data meyakinkan atas burung tapi belum berhasil melakukannya, sementara aku sudah melakukannya secara mandiri.�

Sebaliknya, kelompok Cornell, yang dituduh Collins memiliki pengaruh atas penolakan karyanya di jurnal ornitologi, memberi komentar singkat pada kertas akustik Collins. �Meskipun kami percaya bukti diajukan itu tidak meyakinkan, kami memuji upaya Collins dalam mencari, mendokumentasikan burung pelatuk berparuh gading dan mempublikasikan penemuannya dievaluasi,� kata Kenneth Rosenberg, direktur sains konservasi kelompok Cornell.

Geoff Hill, seorang ahli ornitologi di Auburn University yang memimpin sebuah kelompok yang baru saja memperoleh rekaman sementara burung pelatuk berparuh gading di Florida, berkata, �Mike [Collins] menjabarkan argumen yang bagus. Ini tentu tidak menyelesaikan masalah. Tidak ada definisi dalam penyejiannya. Tapi itu kasus yang menarik. Tentu saja, apakah sesuatu itu �definitif� terkait dengan masalah pendapat.�

Hill mengatakan rekaman audio Collins memang sangat menarik. Tetapi, suara itu bisa saja dihasilkan oleh derit pohon atau kepakan bebek.

Ketika ditanya mengapa pekerjaaan Collins ditolak jurnal ilmu ornitologi, Hill mengatakan bahwa hal itu dikarenakan Collins bukan seorang sornitologi dan Collins tidak mengetahui terminologinya. Lebih dari 50 persen makalah yang disampaikan ditolak. �

Tetapi, Hill, Collins dan kelompok Cornell sama-sama setuju pada satu hal: burung pelatuk berparuh gading ada di luar sana. �Saya pikir burung itu memang ada,� kata Hill, �mereka hanya sangat sulit untuk ditemukan. Pertama, mereka tinggal di beberapa habitat di Amerika Utara yang sulit dirambah manusia. Kedua, burung itu berada tepi kepunahan.�

Collins berpikir bahwa keberadaan mereka ada adalah kunci untuk membantu mereka bertahan hidup. �Semua politik sangat merusak. Kita harus berkata, �OK, burung itu ada, hanya saja sangat sulit untuk diamati.. Sekarang di mana mereka? Di mana mereka hidup? Bagaimana kita bisa menyelamatkan mereka?�

Sumber : gombhalmukiyo
Diposting oleh — Jumat, 30 September 2011

Belum ada komentar untuk "Kontroversi Eksistensi Burung Pelatuk Berparuh Gading"

Tambahkan komentar anda :